Home / Resensi / The Post: Kebebasan Pers Melawan Kedigdayaan Pemerintah

The Post: Kebebasan Pers Melawan Kedigdayaan Pemerintah

Sumber Istimewa

 

Oleh: Surya Dua Artha Simanjuntak

Judul : The Post
Sutradara : Steven Spielberg
Penulis Skenario Liz Hannah, Josh Singer
Pemeran Tom Hanks, Meryl Streep, Bob Odenkirk, Matthew Rhys, Bruce Greenwood
Rilis 12 Januari 2018
Durasi 116 menit
Genre Biografi, Sejarah, Drama, Thriller

 

Bagaimana jika selama ini kau tahu yang dikatakan pemerintah hanya kebohongan? Beranikah kau melawan pemerintah? Maukah kau mempertaruhkan segalanya demi kebenaran? Pilihan yang sulit, bukan? Namun itulah yang terjadi dalam The Post.

Sesuai genrenya (biografi, sejarah), The Post merupakan film yang mengangkat kisah nyata para jurnalis The Washington Post dalam usaha mereka menerbitkan dokumen rahasia Pentagon Papers, yang berisi informasi mengenai keterlibatan pemerintah Amerika Serikat dalam Perang Vietnam, pada tahun 1971 silam.

Cerita bermula ketika seorang Analisis Militer Daniel Ellsberg (Matthew Rhys) merasa kecewa kepada Sekretaris Pertahanan Amerika Serikat—saat itu—Robert McNamara (Bruce Greenwood) yang membohongi media mengenai aktivitas militer Amerika Serikat (AS) di Perang Vietnam. McNamara mengatakan pada media bahwa prospek aktivitas militer AS sangat membanggakan dan mengalami kemajuan, padahal pada kenyataannya keadaan militer AS di Perang Vietnam bertambah buruk.

Atas dasar itu, Ellsberg kemudian memberanikan diri untuk membocorkan dokumen-dokumen rahasia yang menjelaskan tentang kemerosotan militer AS dalam Perang Vietnam selama 30 tahun—Pentagon Papers—kepada seorang jurnalis The New York Times bernama Neil Sheehan (Justin Swain).

Walaupun cerita diawali kisah Ellsber dan Sheehan, namun The Post bukanlah film yang fokus menceritakan riwayat Ellsberg ataupun Sheehan. Film ini lebih mengambil sudut pandang pemilik The Washington Post Katharine Graham (Meryl Streep) dan Pemimpin Redaksi The Washington Post Ben Bradlee (Tom Hanks) dalam upaya mereka menerbitkan Pentagon Papers tersebut.

Bradlee—merupakan pengagum tulisan Sheehan—menyadari bahwa sang jurnalis The New York Times itu belum menerbitkan artikel beberapa waktu belakangan. Bradlee pun yakin bahwa Sheehan sedang mengerjakan suatu berita besar.

Dugaan Bradlee benar, tak lama setelah itu The New York Times menerbitkan berita mengenai kebohongan pemerintah AS mengenai aktivitas militer mereka di Perang Vietnam. The New York Times membeberkan bahwa aktivitas militer AS selama ini mengalami kemerosotan, bukan kemajuan seperti yang selama ini disampaikan oleh pemerintah.

Singkat cerita, perang antara pemerintah dengan pers pun dimulai. Pemerintah AS merasa The New York Times telah mengusik keamanan Negara dan menuntut mereka ke pengadilan. Alhasil, The New York Times tak boleh mempublikasikan kembali berita mengenai Perang Vietnam dan terancam ditutup.

Di sisi lain, The Washington Post—dipimpin oleh Bradlee—tak mau ketinggalan memanaskan “perang dingin” ini. Walaupun dibayangi tuntutan hukum, para jurnalis The Washington Post tak serta-merta mundur, sebaliknya: Bradlee bersama timnya terus berusaha mencari salinan dokumen rahasia Pentagon Papers.

Usaha mereka menemui titik terang, Asisten Editor The Washington Post Ben Bagdikian (Bob Odenkirk) mengetahui bahwa Ellsberg yang membocorkan dokumen rahasia Pentagon Papers ke The New York Times. Setelah berhasil melacak dan menemui Ellsberg, Bagdikian akhirnya mendapatkan salinan Pentagon Papers.

Namun usaha Bradlee cs tak selesai sampai di situ. Dihantui deadline, mereka harus memilah ribuan halaman—tanpa penomoran—untuk mendapatkan cerita yang faktual.

Terlepas dari segala usaha mereka tersebut, pada akhirnya Bradlee harus meyakinkan sang empunya The Washington Post, Katherine Graham, agar mengizinkan mereka mempublikasikan berita kontroversial itu. Ya, Katherine lah yang harus menampung seluruh beban itu. Pergolakan hati tak dapat dihindari. Atas dasar tuntutan hukum, para petinggi The Washington Post—lainnyadan para investor terus mengintervensi agar tak menerbitkan berita tersebut, namun hati kecil Katherine menyarankan sebaliknya.

Katherine harus memutuskan pilihan tersulit: memperjuangkan kebebasan pers atau menyelamatkan perusahaannya.

Sumber Istimewa

Itulah inti dari The Post: menggugah hati para jurnalis untuk terus menjunjung tinggi elemen-elemen jurnalistik—terlepas dari segala konsekuensinya. Lebih luas lagi, film ini menegaskan pentingnya peran pers sebagai kontrol sosial dan menyajikan berita untuk kepentingan orang banyak.

Dilansir dari theguardian.com, sang Sutradara Steven Spielberg mengatakan The Post dibuat karena saat ini pemerintah Amerika Serikat terlalu ‘memborbardir’ pers. Bahkan, Spielberg berpendapat pemerintah akan membenarkan berita hoax jika itu sesuai dengan mereka.

Ya, seperti film sejarah lainnya, The Post amat sarat akan pesan moral. Pada masa sekarang, media seringkali menyajikan berita untuk kepentingan satu pihak. Bahkan tak segan untuk menyebarkan berita hoax untuk menyudutkan pihak tertentu. Mereka seperti lupa tugas: menyajikan berita untuk kepentingan orang banyak—bukan untuk satu atau beberapa pihak.

Selain itu, The Post tak lupa menyentil para pemegang kuasa bahwa tak ada kekuasaan yang mutlak. Peran pers sebagai check and balance tak boleh dipandang sebelah mata. Para pemegang kuasa (pemerintah, rektorat, dsb) tak bisa menyembunyikan kebenaran dari publik. Mereka tak boleh memakai kedigdayaannya untuk mengintervensi serta menuntut pers supaya sejalan dengan keinginan mereka. Tak di negara demokrasi.

Mungkin itulah yang membuat The Post bisa langsung masuk dua nominasi Oscar sekaligus: Best Motion Picture of the Year dan Best Performance by an Actress in a Leading Role.

Bagaimana tidak, The Post ditangani langsung nama-nama besar seperti Steven Spielberg: sutradara pemenang tiga penghargaan Oscar. Ditambahkan dua karakter utama dalam film ini diperankan oleh Tom Hanks dan Meryl Streep: dua pemain film yang sudah sarat pengalaman dan penghargaan. Hanks berhasil memerankan karakter Bradlee yang ambisius dan keras kepala serta Streep berhasil menghidupkan gerakan feminisme dalam karakter Katherine. Pun, salah satu Penulis Skenario Josh Singer sudah berpengalaman menulis film tentang jurnalistik: ia menulis skenario Spotlight (2015) dan memenangkan penghargaan Oscar kategori Best Writing, Original Screenplay.

Dari segala perpaduan tersebut, tak heran jika The Post bisa melekat di hati siapa saja yang menontonnya. Terbukti, The Post mendapat respon positif dari para kritikus dan penonton. Berdasarkan Rotten Tomatoes, film ini memiliki rating 88%, berdasarkan 312 ulasan dengan rating rata-rata 7.9/10. Berdasarkan Metacritic, film ini mendapatkan skor 83 dari 100, berdasarkan 51 kritik, serta berdasarkan IMDb, film ini mendapat rating 7.3/10 dari 39 ribu lebih voting.

Akhir kata, The Post merupakan film yang worth-watching karena sangat inspiratif. Bahkan,jika kamu seorang yang tertarik di bidang jurnalistik atau seorang penikmat sejarah maka The Post harus masuk dalam watch-list-mu.

About SUARA USU

Check Also

Stalin, Ini Komedi Hanya Komedi

  Oleh: Adinda Zahra Noviyanti Judul : The Death of Stalin Sutradara : Armando Iannucci Penulis Skenario …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *