Ulat Mealworm, Pahlawan Kecil Pemakan Plastik

0
72
Sumber: assets.atlasobscura.com

Oleh: Nurhanifah

Plastik berbayar dan ATM sampah merupakan beberapa kebijakan untuk mengurangi sampah plastik. Tapi, ulat mealworm punya cara berbeda. Si kecil ini mampu mengurai polisterin dan aman pada lingkungan.

Penguraian polisterin—bahan utama untuk membuat berbagai macam benda berbahan plastik—membutuhkan jangka waktu panjang untuk bisa terurai di tanah secara alami. Menurut jurnal Environmental Science and Technology, kantong plastik berbahan polisterin membutuhkan waktu dua puluh tahun untuk melakukan penguraian sendiri di dalam tanah. Namun, jika berada pada tumpukan sampah akan berlipat ganda menjadi lima ratus tahun untuk dapat terurai.

Sebuah penelitian pada 2015, yang dilakukan oleh Wei Min Wu peneliti dari Standford University Amerika bekerja sama dengan peneliti di Cina menggunakan ulat mealworm sebagai pengurai styrofom, nampaknya dapat menjadi solusi.

Ulat mealworm atau ulat hongkong berasal dari Mediterania yang menyebar hampir ke seluruh dunia melalui aktivitas perdagangan dan penjajahan, hal ini didukung oleh catatan sejarah pada zaman perunggu  Turki yang menyatakan ulat mealwom merupakan hama tanaman.

Ulat mealworm merupakan bentuk larva kumbang Tenebrio Molitor. Ia berkembang biak melalui siklus metamorfosis sempurna, dari telur, ulat, kepompong, dan kumbang. Pun, ia dapat bertahan hidup dalam suhu 25-27oC.

Ia sangat menyukai habitat yang gelap dengan kelembaban yang tinggi. Di alam makanannnya berupa biji-bijan kering yang masih segar maupun busuk. Kebiasaan makan yang rakus membuatnya dianggap sebagai hama di Eropa maupun negara subtropis.

Namun, ulat mealworm juga terkenal di kalangan pencinta burung. The Royal Society fot The Protection Birds pernah merekomendasikan ulat mealworn sebagai pakan alami untuk burung liar maupun barung peliharaan karena kandungan nutrisinya.

Jika nutrisinya baik untuk pakan burung,  kemampuan makan dan mikroba pada usus ulat mealworm ternyata juga memberikan dampak positif bagi lingkungan. Dampak positif ini terlihat dari hasil penelitian yang dilakukan Wu dalam mengurai sampah plastik.

Sumber: s4.eestatic.com

Dalam penelitiannya, Wu melakukan uji coba dua kali. Pada penelitian pertama ia memberikan 34 hingga 39 miligram styrofom kepada 100 ulat mealworn sebagai makanannya. Masing-masing ulat diberi dosis stryrofom sebesar satu pil untuk manusia.

Hasilnya dalam waktu 24 jam, seratus ulat mealworm berhasil mengurai 34 hingga 39 miligram styrofom menjadi CO2.

Setelah satu bulan mengonsumsi styrofom tersebut, peneliti melakukan tes kesehatan, hasilnya mereka sama sehatnya dengan mealworm yang memakan makanan organik. Wu juga menambahkan ulat ini mengubah styrofom menjadi karbon dioksida dan butiran yang dapat diuraikan serta aman bagi tanah dan tanaman.

Kemudian pada penelitian kedua, Wu menggunakan mikroba dalam saluran pencernaan ulat mealworm. Mikroba inilah yang dapat membuat ulat mealworm menguraikan styrofoam. Hasilnya mikroba tersebut mampu menguraikan polisterin meskipun lebih lambat dibandingkan dengan penguraian yang dilakukan oleh ulat mealworm.

Dikutip dari CNN, Wu sampaikan akan melanjutkan penelitiannya terkait dengan hewan-hewan lain yang dapat menguraikan sampah. Meski telah dilakukan sejak 2015, masih banyak pihak yang belum mencoba menerapkan ulat mealworm sebagai bahan pengurai plastik.

Satu ulat mealworm, diperkirakan dapat memakan 2,9 miligram polisterin dalam satu hari. Sehingga jika diakumulasikan dalam satu bulan ulat mealworm dapat mengonsumsi 87 miligram polisterin.

Mungkin memelihara ulat yang satu ini akan menjadi solusi bagi berbagai negara yang merasakan sampah plastik sebagai masalah lingkungan. Di Indonesia, surat edaran plastik berbayar, pada 21 Februari 2016 lalu diberlakukan terkait sumbangan sampah ke laut oleh Indonesia yang menempati peringkat kedua setelah Tiongkok.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyampaikan, hasil sampah plastik dari seratus toko anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) selama satu tahun akan menghasilkan 10,95 juta lembar kantong plastik atau 65,7 Ha kantong plastik.

Selain itu, pemerintah Denpasar Bali juga mendirikan ATM sampah di 26 titik untuk mengurangi sampah plastik di Denpasar. Menurut Badan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, pada 2014 Bali menghasilkan 680 meter3 sampah per hari. Setelah memasukkan sampah plastik ke dalam ATM, nantinya mesin akan menghasilkan voucher yang dapat ditukarkan ke beberapa tempat makan di Bali.

Meski penelitian ini telah dilakukan pada 2015, harapannya dampaknya dapat kita rasakan saat ini. Jika Anda penasaran, nampaknya Anda bisa mencoba melakukan penelitian ini sendiri di rumah. Anda cukup membeli ulat mealworm di tempat pakan burung, lalu meletakkannya di tumpukan styrofom. Dengan begitu, setidaknya Anda sudah menjadi penyelamat lingkungan.

Komentar
(Visited 31 times, 1 visits today)