Home / Cerpen / Ali dan Nasruddin

Ali dan Nasruddin

Oleh: Audira Ainindya

“Di dunia ini ada dua hal yang paling mulia. Yang pertama menemukan sesuatu yang berharga, yang kedua adalah memberikan sesuatu yang paling kita sayangi.”

Begitu kata pria tua berjanggut putih itu.

Saat itu negara kami dilanda kekeringan. Krisis air. Untungnya Raja Abdul Aziz bin Abdurrahman as-Sa’ud dari Riyadh menghadiahkan kami gudang berisi ratusan galon air. Pria tua bejanggut putih itu menasehatiku setelah kuberikan dia segalon air untuknya dan keledai hitamnya yang kecil.

Ada jeda panjang setelah ia menasehatiku. Ia menatapku. Aku tak tahu harus berkata apa. Kutatapi balik wajahnya penuh tanya. Kulihati tiap kerutan yang ada di wajahnya yang lelah dan menyedihkan. Kemungkinan usianya 50-an. Aku hanya mengangguk.

“Oh ya ini Jordan, Pak! Dia unta yang bagus bukan?” ujarku mencoba basa-basi dengan pria tua itu. Kuperkenalkan unta yang sedang berdiri angkuh di sampingku.

Belakangan diketahui namanya adalah Nasruddin, seorang peminta-minta dari Persia. Ia lalu tersenyum.

“Kau akan mengerti nanti, nak!” ujarnya seraya meninggalkanku. Bersama keledai tuanya yang tak sampai hati untuk ditunggangi. Nasruddin menggiring keledai itu layaknya seorang pengembala domba. Ia berkata padaku sedang melakukan perjalanan spiritual ke Arab Saudi. Ia kehabisan persediaan air minum lalu meminta padaku yang saat itu sedang merapikan bulu-bulu unta.

Peminta-minta itu meninggalkanku bersama unta-unta yang siap kubersihkan di penampungan. Tiba-tiba seorang sahabat datang menghampiri. Yaqub bin Al-qatri keturunan keluarga Al-qatri.  Keluarga pasukan perang di desa kami, Hududusy Syamaliyah yang diapit oleh dua desa, Jauf dan Ha’il. Ia baru bergabung dalam pasukan perang Arab Saudi. Ia anggota muda yang selalu bersemangat.

“Ali, kenapa engkau berikan galon air pada pengemis itu?” tanya Yaqub dengan nada terengah-engah.

“Ia sudah tua dan butuh air itu,” ujarku dengan nada sedikit marah karena pertanyaan Yaqub yang cukup merendahkan. Kupandangi bajunya yang basah dicucuri keringat.

Ia tak membalas jawabanku. Wajahnya kebingungan. Sangat panik.

“Tapi kan galon air kita banyak!” ujarku bangga sambil memamerkan kunci gudang tempat penyimpanan galon air. Aku mencoba menenangkan Yaqub. Sesekali aku mengelus bulu unta yang ada di sampingku. Jordan, unta kesayanganku bersama sepuluh unta milik Abu Mirza sedang dibersihkan di tempat penampungan. Aku bekerja sebagai pengurus unta juga penjaga gudang penyimpanan galon air.

“Aku baru dari gudang, ada perampok dari Iraq yang mengambil galon air kita!” ujar Yaqub.

Ia sedikit gemetaran. Sejam yang lalu, para pasukan perang  Iran datang ke gudang. Dengan senjata yang lengkap, mereka menakuti para penduduk setempat. Menerobos pintu gudang. Yaqub tak sengaja lewat. Ia berusaha menolong para wanita dan anak-anak di sekitar gudang. Tangan kirinya terluka. Kena goresan pedang. Suasana desa sangat tidak kondusif. Para pasukan Iraq itu mecoba mengambil galon air di gudang. Mereka berhasil membawa seluruhnya. Tak satupun galon tersisa di gudang.

Aku merasa bersalah. Kualihkan perhatianku pada tangan Yaqub yang penuh darah. Kuambil kain untuk menghentikan darah di lukanya.

“Kau tak perlu urus ini!” ujar Yaqub kesal.

Aku terdiam. Semua memang salahku. Aku tidak menjaga gudang itu dengan baik malah mengurus unta-unta di tempat penampungan. Ditambah lagi galon yang tersisa malah kuberikan pada pengemis tua.

***

Akhirnya aku bersama warga desa menemukan kesepakatan setelah mengadakan sepuluh kali pertemuan. Aku harus pergi ke Riyadh untuk membeli air di pusat pasar. Raja Abdul Aziz bin Abdurrahman as-Sa’ud bisa saja memberikan gudang dan galon air secara cuma-cuma pada desa kami. Namun, warga merasa segan atas kebaikan Sang Raja. Sebagai hukuman aku juga harus memperbaiki gudang dan galon air itu diberi dengan menggunakan uangku sendiri.

Sungguh menyedihkan. Sebagai pemuda yang hanya bekerja sebagai pengurus unta dan penjaga gudang, tentu saja aku tidak bisa mengkehendakinya. Aku menemui sahabatku Yaqub untuk meminta solusi.

“Jordan!” ujar Yaqub dengan lantang. Kau bisa jual Jordan.

“Tapi ia unta kesayanganku!”

Yaqub melototiku. Aku benci hal ini. Matanya terus meyakinkanku untuk menjual unta yang sudah bersamaku sejak aku berusia 5 tahun. Aku menghela nafas.

“Oke, baiklah! Tapi aku naik apa ke Riyadh?”

“Kau bisa pinjam untaku atau unta milik Abu Mirza?”

Aku mengangguk tanda kesepakatan.

***

Sesampainya di Riyadh, tak sengaja aku bertemu dengan gadis yang rupawan. Pakaiannya santun namun terlihat betul ia berasal dari luar negri. Saat kami berhadapan, ia tak sengaja menjatuhkan beberapa buah kurma dan kemudian mengutipnya sendiri ke dalam plastik. Aku mencoba membantunya. Ia melirik ke arahku lalu menunduk. Buru-buru ia pergi. Gadis itu kemudian berlalu menemui seorang pria tua. Tepatnya di pusat pasar saat aku mulai menawar harga galon-galon yang akan dikirimkan ke desa, gadis rupawan itu memberikan bungkusan plastik pada seorang pria tua. Wajah pria tua itu aku kenali. Tak salah lagi jika pria tua itu adalah Nasruddin si peminta-minta dari Persia.

“Mampir ke toko kami, tuan Mullah Nasruddin!” pinta pedagang galon air itu pada pengemis yang aku kenali wajahnya.

Pengemis tua itu bersama gadis yang kutaksir  berjalan ke arah kami.

“Kau kenal dengan pria tua itu?” tanyaku pada pedagang galon air.

“Tentu nak, dia Mullah Nasruddin, tuan kami yang bijak!”

Pria tua yang kukenal sebagai peminta-minta itu berasal dari Desa Hortu Sivrihisar, Eskisehir. Ternyata, ia cukup terkenal di Arab Saudi. Aku saja yang tak tahu. Namanya juga kondang di daratan Asia Tengah, Eropa Timur, bahkan hingga Cina. Orang-orang menyebutnya si penutur kisah jenaka, tak jarang juga orang-orang memanggilnya Si Tua Gendut, Si Licik, atau Pak tua yang lucu dengan keledainya yang selalu terlihat lemas. Dalam menyampaikan nasehat ia sengaja meletakkan unsur humor agar terus diingat orang. Tak heran jika ia dinobatkan sebagai penutur kisah terbaik dunia hingga diundang saat perjamuan makan malam di istana Raja Omar. Nasruddin sedang mengunjungi anak perempuannya yang sedang menggali ilmu di Riyadh. Begitulah yang dijelaskan si penjual galon air padaku.

“Hai, nak! Kita bertemu lagi ya!” ujar Nasruddin menepuk bahuku. Ia sangat ramah.

Aku sedikit malu-malu karena mengiranya seorang peminta-minta. Aku mengangguk.

“Mana, Jordan?” tanyanya

“Sudah dijual, Pak!” jawabku singkat.

“Bukankah kau sangat sayang padanya?”

“Sayang sih, Pak, tapi aku harus membeli galon-galon air ini!”

Tiba-tiba aku teringat atas nasehat Nasruddin padaku tentang dua hal yang mulia, yaitu menemukan sesuatu yang berharga, yang kedua adalah memberikan sesuatu yang paling kita sayangi.

Aku sudah memberikan sesuatu yang paling aku sayangi yaitu Jordan, untaku yang sudah menjadi sahabatku selama 18 tahun, sedangkan menemukan sesuatu yang berharga aku masih ragu.

Nasruddin tertawa melihatku yang terlihat sedang serius berpikir. Suasana sedikit hening kala itu setelah percakapan kami tadi.

“Oh ya, ini Seina anak perempuanku. Ini Ali, yang Bapak ceritakan waktu itu!” ujar Nasruddin yang mencoba memperkenalkan kami berdua. Seina, gadis rupawan itu ternyata anak perempuan Nasruddin. Ia mengangguk malu. Ada kesenangan yang tak bisa diungkapkan saat tahu Seina adalah anak Nasruddin dan ia pernah menceritakanku pada anak perempuannya yang jelita itu.

“Ali, aku suka dengan sifatmu. Jika kau mau, aku berniat menjodohkanmu pada anak perempuanku!” pinta Nasruddin. Seina belajar tentang ilmu kesehatan di Riyadh. Setelah lulus nanti, aku mau dia menikah denganmu.

Aku mengangguk setuju. Tak sabar menuju desa untuk mengatakannya pada keluarga dan sanak saudara untuk melamar Seina.  Aku juga tak sabar melihat wajah-wajah warga desa yang senang menyambut kedatangan galon air.

Aku, Ali bin Suhaimi berterima kasih pada Mullah Nasruddin yang telah mebantuku mendapatkan dua hal yang paling mulia di dunia ini, menemukan sesuatu yang berharga yaitu, seorang gadis yang akan kunikahi  dan sambutan warga desa yang menungguku membawa galon air serta memberikan sesuatu yang paling aku sayangi, Jordan, untaku yang sekarang sudah aku ikhlaskan tak lagi bersamaku.

Check Also

Saat Dia Tersesat dan Mencari Jalan Pulang

  Oleh: Yael Stefany Sinaga “Jika salah maka benarkan. Tapi hasrat melambung tinggi dengan cepat.” …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *