Home / RAGAM / Kesehatan / Belajar Bahasa Asing Dapat Meningkatkan Kesehatan Otak

Belajar Bahasa Asing Dapat Meningkatkan Kesehatan Otak

Oleh: Apriani Novitasari

Saat ini, belajar bermacam-macam bahasa asing sudah menjadi ‘tradisi’ bagi setiap kalangan. Alasannya mempermudah pergaluan dan mencari pekerjaan. Namun, tahukah Anda belajar bahasa asing dapat meningkatkan perkembangan otak dan menurunkan demensia?

2014- bahasa

Belajar bahasa asing dapat mencegah atau menurunkan tingkat demensia yang terjadi pada seseorang. Istilah demensia sering digunakan untuk menjelaskan penurunan fungsional yang disebabkan oleh kelainan yang terjadi pada otak.

Pikun merupakan gejala umum demensia, walaupun pikun itu sendiri belum berarti indikasi terjadinya demensia.

Hal ini telah dibuktikan dalam salah satu studi yang diterbitkan dalam jurnal Neurology di neurology.org. Katanya, orang yang menguasai dua bahasa atau berbagai macam bahasa (polyglot) terkena demensia 4,5 tahun lebih lambat ketimbang orang yang hanya bisa bicara satu bahasa.

Beberapa gejala demensia ini seperti hilangnya memori dan perhatian, penurunan persepsi visual yang dihasilkan oleh kerusakan sel-sel otak,dan kesulitan berkomunikasi. Hal yang paling umum dari demensia adalah alzheimer yang dapat menyebabkan kematian terbesar kelima orang Amerika yang berusia lebih dari 65 tahun. Penyakit ini diperkirakan dapat mempengaruhi 5,2 juta orang.

Orang-orang yang menderita demensia sering tidak dapat berpikir dan beraktivitas dengan baik. Sehingga lama kelamaan dapat kehilangan kemampuan untuk menyelesaikan masalah dan menjadi emosional.

Salah satu penelitian yang diadakan Dr Thomas Bak dari Scotland’s University of Edinburgh mengatakan orang  yang memiliki kemampuan bahasa lebih dari satu, selalu berlatih semacam senam otak untuk menggunakan kata yang benar saat menggunakan suatu bahasa dan ‘menekan’ bahasa lainnya. Hal ini merangsang berbagai bagian otak untuk aktif sepanjang hidupnya.

Penelitian ini dilakukan di Hyderabad, India. Tempat itu menjadi titik percampuran budaya sehingga membuat warganya berbicara dua bahasa atau lebih terlepas dari tingkat pendidikannya dengan melibatkan 648 pasien demensia.

 

Rata-rata usia peserta penelitian adalah 62,2 tahun dan sudah lama tinggal di Hydebarad yang telah terpapar bahasa lokal seperti Hindi, Telugu dan Dakkhini. Lebih dari setengah peserta studi adalah orang-orang yang berbicara dua atau lebih bahasa.
Selain itu, peneliti juga mewawancarai anggota keluarga dan pengasuh untuk menentukan kapan gejala pertama demensia muncul. Untuk penutur bilingual, rata-rata terkena demensia di usia 65,6 tahun. Sementara untuk orang yang hanya menguasai satu bahasa terkena demensia di usia 61,1 tahun.

Sebenarnya, orang yang bisa bicara lebih dari satu bahasa tidak pasti terlindungi dari demensia. Untuk mendapat manfaat kesehatan dari kemampuan bilingual tidak perlu bicara bahasa kedua denga fasih, dapat mengekspresikan diri melalui bahasa yang dikuasai sudah cukup.

Selain memperlambat demensia, belajar bahasa asing juga dapat meningkatkan perkembangan otak. Demikian penelitian Lund University dari Swedia. Mereka meneliti empat belas remaja berusia delapan belastahun yang direkrut oleh Swedish Armed Forces Interpreter Academy.

Sebab, sebagai anggota baru mereka diwajibkan belajar bahasa Arab dan Rusia dalam kurun waktu tiga belas bulan selama tujuh hari seminggu dari pagi sampai malam selama delapan jam sehari. Mereka diharuskan menghafal tiga ratus hingga lima ratus kosakata baru setiap minggu.

Sementara itu, peneliti menyiapkan kelompok kontrol yaitu mahasiswa dari Umea university yang dinilai pekerja keras dan memiliki kemampuan kognitif tinggi. Pada bulan ketiga pembelajaran, kedua kelompok menjalani tes MRI untuk memantau kondisi otak mereka.

Hasil penelitiannya mengatakan otak pada kelompok kontrol tidak ada perubahan, namun otak anggota baru di kelompok pertama mengalami pertumbuhan di bagian tertentu.

Bagian yang berkembang ukurannya adalah hippocampus, struktur dalam otak yang melibatkan pembelajaran hal baru dan navigasi spasial.Bukan hanya itu, tiga area di korteks serebral juga ikut berkembang.

Belajar bahasa pun tak harus melalui pendidikan formal. Kompas Online Minggu 16 Februari 2014 menyebutkan lima cara belajar bahasa asing dengan mudah yaitu membaca koran online, situs web komunitas belajar, lirik lagu, kelompok diskusi bahasa dan Podcasts,mendengarkan audio tentang suatu topik berbahasa asing. Bahkan, di India banyak orang yang belajar bahasa asing dari jalanan.

Oleh Apriani Novitasari Jumat, 28 Februari 2014 02:26

Saat ini, belajar bermacam-macam bahasa asing sudah menjadi ‘tradisi’ bagi setiap kalangan. Alasannya mempermudah pergaluan dan mencari pekerjaan. Namun, tahukah Anda belajar bahasa asing dapat meningkatkan perkembangan otak dan menurunkan demensia?

Sumber: Istimewa

Belajar bahasa asing dapat mencegah atau menurunkan tingkat demensia yang terjadi pada seseorang. Istilah demensia sering digunakan untuk menjelaskan penurunan fungsional yang disebabkan oleh kelainan yang terjadi pada otak.

Pikun merupakan gejala umum demensia, walaupun pikun itu sendiri belum berarti indikasi terjadinya demensia.

Hal ini telah dibuktikan dalam salah satu studi yang diterbitkan dalam jurnal Neurology di neurology.org. Katanya, orang yang menguasai dua bahasa atau berbagai macam bahasa (polyglot) terkena demensia 4,5 tahun lebih lambat ketimbang orang yang hanya bisa bicara satu bahasa.

Beberapa gejala demensia ini seperti hilangnya memori dan perhatian, penurunan persepsi visual yang dihasilkan oleh kerusakan sel-sel otak,dan kesulitan berkomunikasi. Hal yang paling umum dari demensia adalah alzheimer yang dapat menyebabkan kematian terbesar kelima orang Amerika yang berusia lebih dari 65 tahun. Penyakit ini diperkirakan dapat mempengaruhi 5,2 juta orang.

Orang-orang yang menderita demensia sering tidak dapat berpikir dan beraktivitas dengan baik. Sehingga lama kelamaan dapat kehilangan kemampuan untuk menyelesaikan masalah dan menjadi emosional.

Salah satu penelitian yang diadakan Dr Thomas Bak dari Scotland’s University of Edinburgh mengatakan orang  yang memiliki kemampuan bahasa lebih dari satu, selalu berlatih semacam senam otak untuk menggunakan kata yang benar saat menggunakan suatu bahasa dan ‘menekan’ bahasa lainnya. Hal ini merangsang berbagai bagian otak untuk aktif sepanjang hidupnya.

Penelitian ini dilakukan di Hyderabad, India. Tempat itu menjadi titik percampuran budaya sehingga membuat warganya berbicara dua bahasa atau lebih terlepas dari tingkat pendidikannya dengan melibatkan 648 pasien demensia.

 

Rata-rata usia peserta penelitian adalah 62,2 tahun dan sudah lama tinggal di Hydebarad yang telah terpapar bahasa lokal seperti Hindi, Telugu dan Dakkhini. Lebih dari setengah peserta studi adalah orang-orang yang berbicara dua atau lebih bahasa.
Selain itu, peneliti juga mewawancarai anggota keluarga dan pengasuh untuk menentukan kapan gejala pertama demensia muncul. Untuk penutur bilingual, rata-rata terkena demensia di usia 65,6 tahun. Sementara untuk orang yang hanya menguasai satu bahasa terkena demensia di usia 61,1 tahun.

Sebenarnya, orang yang bisa bicara lebih dari satu bahasa tidak pasti terlindungi dari demensia. Untuk mendapat manfaat kesehatan dari kemampuan bilingual tidak perlu bicara bahasa kedua denga fasih, dapat mengekspresikan diri melalui bahasa yang dikuasai sudah cukup.

Selain memperlambat demensia, belajar bahasa asing juga dapat meningkatkan perkembangan otak. Demikian penelitian Lund University dari Swedia. Mereka meneliti empat belas remaja berusia delapan belastahun yang direkrut oleh Swedish Armed Forces Interpreter Academy.

Sebab, sebagai anggota baru mereka diwajibkan belajar bahasa Arab dan Rusia dalam kurun waktu tiga belas bulan selama tujuh hari seminggu dari pagi sampai malam selama delapan jam sehari. Mereka diharuskan menghafal tiga ratus hingga lima ratus kosakata baru setiap minggu.

Sementara itu, peneliti menyiapkan kelompok kontrol yaitu mahasiswa dari Umea university yang dinilai pekerja keras dan memiliki kemampuan kognitif tinggi. Pada bulan ketiga pembelajaran, kedua kelompok menjalani tes MRI untuk memantau kondisi otak mereka.

Hasil penelitiannya mengatakan otak pada kelompok kontrol tidak ada perubahan, namun otak anggota baru di kelompok pertama mengalami pertumbuhan di bagian tertentu.

Bagian yang berkembang ukurannya adalah hippocampus, struktur dalam otak yang melibatkan pembelajaran hal baru dan navigasi spasial.Bukan hanya itu, tiga area di korteks serebral juga ikut berkembang.

Belajar bahasa pun tak harus melalui pendidikan formal. Kompas Online Minggu 16 Februari 2014 menyebutkan lima cara belajar bahasa asing dengan mudah yaitu membaca koran online, situs web komunitas belajar, lirik lagu, kelompok diskusi bahasa dan Podcasts,mendengarkan audio tentang suatu topik berbahasa asing. Bahkan, di India banyak orang yang belajar bahasa asing dari jalanan.

About Portal Berita Pers Mahasiswa SUARA USU

Check Also

Mythomania: Bukan Bohong Biasa

Oleh: Vanisof Kristin Manalu Kebiasaan terlalu sering berbohong bisa berdampak buruk bagi kesehatan mental. Salah …