Home / Cerpen

Cerpen

Jemput Aku Wahai Kedamaian

Oleh: Nadiah Azri Br Simbolon Saat dunia yang kau huni tak pernah memberikan jawaban atas pertanyaan yang menghantui pikiranmu. Maka berserahlah. Pinta kedamaian yang menjawabnya. Di sebuah hamparan padang pasir yang luas, terlihat anak Adam berjalan meringkih dengan kaki terseok-seok. Bercak darah yang melekat di sekujur tubuhnya mengundang hewan-hewan kecil …

Read More »

Langit Sendu

  Oleh:  Putra P. Purba “Rupanya hujan di siang hari ini membawa berkah. Kelak hujan akan membawa namaku ke pembaringan terakhir” Suara gaduh mulai terdengar memecah keheningan. Gedung sudah ramai sejak pagi buta. Tumpukan kertas brosur dan bendera merah putih di mana-mana. Dibawa demi menjatuhkan hegemoni rezim yang lama berkuasa. …

Read More »

Nietzsche dan Wanita Tua

  Oleh: Surya Dua Artha Simanjuntak Kamu pernah bilang harapan hanya sebuah penjara bagimu. Namun, jika harapan adalah penjara, mungkin iman adalah kuncinya. “Hidup adalah penderitaan,” kata Buddha. Bagiku, itulah ajaran agama yang paling relevan. Mereka berkata bahwa aku hanya pemuda yang putus asa. Mungkin mereka benar. Nyatanya, aku hanya …

Read More »

Ketika Semua Menolak Kehadiran Diriku Di Dekatnya

  Oleh : Yael Stefani Sinaga Harus bagaimana aku baru disebut manusia? Melentang, merayap, atau merunduk? “Kau penyakit bagi kami. Kau tak layak hidup. Bahkan di neraka saja orang-orang akan enggan dekat denganmu. Terkutuk lah kau wanita laknat,” Aku tertunduk di tengah-tengah mereka. Bahkan sudah tak tahu berapa banyak ludah …

Read More »

Perempuan di Tanah Hierarki

  Oleh: Putra P. Purba “Aku berada di tanah cendala dalam tatanan mahajana. Mampu menatap, namun tak sanggup bersuara.” Aku tatap sekali lagi nisan yang sudah berdiri tegak itu. Rasanya mataku enggan mengeluarkan airnya. Aku hanya menatap lekat tulisan yang terpampang di sana. Ridwan, laki-laki yang telah mempersuntingku tiga tahun lalu …

Read More »

Saat Dia Tersesat dan Mencari Jalan Pulang

  Oleh: Yael Stefany Sinaga “Jika salah maka benarkan. Tapi hasrat melambung tinggi dengan cepat.” Deras keringat membasahi ujung kepala hingga dagu. Hampir dua tahun aku mengenalnya. Entah setan atau kerasukan roh yang membuat kami sampai pada adegan klimaks ini. Sungguh benar kata orang, jika dua individu lupa memakai logika …

Read More »

Purnama Terakhir

  Oleh: Widiya Hastuti “Lauful Mahfudz, kitab kisah hidup manusia. Seperti novel dengan alur ceritanya. Tiap tokoh telah ditentukan kisahnya oleh penulis. Mereka hanya tokoh yang dibentuk oleh huruf. Tak dapat melakukan apa-apa.” Adil itu apa? Bahagia itu bagaimana? Bagai angin yang bergeming? Tak terasa. Aku seperti terjebak dalam labirin …

Read More »

Lara

  Oleh: Putri Cemara Nauli Togtorop Dia selalu saja ada di pikiranku dan membuat terkaan. Aku lahir dengan sejuta fantasi namun berakhir dengan menyakitkan. Kala pagi dia datang dengan sapaan hangatnya. Lelaki yang sibuk dengan laptop dan dunia program itu sedang duduk dipinggir pendopo tanpa pohon. “Eh kau rupanya, sudah …

Read More »