Home / Puisi

Puisi

Pagi itu, Ajaib

  Oleh: Selistio Oklando Mikha Sitorus Aroma dedaunan yang dibasahi embun Memaksaku beranjak dari peraduanku Tiap tetes embun yang jatuh ke bumi Memanggilku ‘tuk menikmati pagi yang ajaib   Ah Pagi, kau terlalu berharga untuk tidak dinikmati Aku lupa bebanku Hatiku yang gundah menjelma menjadi kedamaian Hatiku berseri, Masalahku  lenyap …

Read More »

Bara Derita

  Oleh: Randa Hasnan Habib   Bentuknya masih sama Warnanya merah jingga Lautan murka sisa lautan perang gerilya Reka adegan bersama ingatan luka   Suaranya lantang merajam jiwa Caci maki peluru senjata siksa Aroma noda hitam pekat kotoran kasam Membaur semesta duka lara   Tentang sebuah cerita lama Dusta pembuka …

Read More »

Tanah Itu Bergerak

  Oleh: Rimma Itasari Nababan   Lis Lihatlah hujan menangis Dengar daun-daun juga meringis Akar-akar tak lagi berselimut tanah Biji-bijian enggan berkecambah Aku melihatnya dari atas rotan tua   Eh Lis lihat tanah itu bergerak Bersatu bersama air Merangkak Berlari dan menerjang Jatuh, rumah Paris terkubur Lis   Eh Lis …

Read More »

Palu

Oleh: Mayang Sari Sirait Diketuk palu Tuk tuk Menghakimi lewat mata Tatap dibalik lensa   Palunya dari kayu Tak mahal rasaku Tapi efeknya buatku kelu Apalagi kalau yang pegang tak pantas   Aku jua punya Palu, dari besi pula Tapi biasa saja Orang yang pegang tak punya kuasa   Kupikir, …

Read More »

Duka Si Kaki Lima

Oleh : Selistio Oklando Mikha Sitorus Aku terdiam, merenung Mataku terbuka, namun aku melihat khayalan yang begitu nyata Aku tak mengerti Tak mengerti akan alur hidup yang indah ini Meski, sakit kurasa Aku tetap berkata hidup ini indah   Adilkah? Akukah yang paling hina? Akukah yang paling nista? Sekotor itukah …

Read More »

Paralisis

Oleh: Nadiah Azri Br Simbolon   Senyawa ricin terselip dalam salivaku Jemariku layaknya Badik yang membedil Sajak-sajak tersurat menyayat harkatmu Menjadikanku komunis di antara kaum pancasilais   Pujianku dibalas angkara murka Kritikan diganjar jeruji Menggertak berarti mati Meninggalkan gading yang  berulat   Zaman tak lagi sama Berubah dengan kentara Kini, …

Read More »

Berita

Oleh: Widiya Hastuti Kala itu senja Kau duduk dengan radio perak yang telah lama serak Menatap halaman berserak Dengan segelas kopi luwak Termenung Daunmu menangkap Gelombang berita dari seberang pulau sana Tentang buah jerami yang tak lagi terbeli Tentang anak kurang gizi Tentang roda yang mati Tentang BPJS yang rugi …

Read More »

Mesias

  Oleh: Surya Dua Artha Simanjuntak   Aku lahir dari kabut waktu Dari nubuat yang membisikkan namaku Di bawah bintang timur aku datang Dari harapan ribuan impian   Aku adalah suratan Datang untuk memperbaiki keadaan Aku adalah takdir Bersama gelap dan terang   Lihat, jika kau indahkan Bersama kita lukis …

Read More »

Tuhan (Ter)lupa

Oleh: Thariq Ridho   Sukma (di)luka Atma mendo’a bersama kata dalam diam ia mencela sebab Tuhan, tak seramah (katanya)   Atma berduka lantas siapa jadi (ber)dosa sudahkah sujud sembah hanya pada Sang (Esa) nyatanya, Tuhan pernah (Me)Lupa   Sukma mengalah dalam dekapan bunyi pasrah bingung Pada siapa berkeluh kesah (ter) …

Read More »

Bangun dan Berubah

Oleh : Selistio Sitorus Katamu mereka salah Sangkamu engkau benar Katamu mereka bodoh Seakan engkau pintar Dan, katamu engkau agen Masakan engkau diam?   Katamu kau berbeda Mengapa tetap sama? Katamu engkau bisa Mengapa tak mencoba?   Ambisiusmu menyimpang Tatapan matamu salah Semangatmu kosong Dan ucapanmu salah kaprah   Teduhkanlah …

Read More »