Home / Puisi (page 20)

Puisi

Egoiskah?

Oleh: Apriani Novitasari   Kau di atas sana dengan mahkota emasmu Aku di sini, meringkung di balik dinginnya taman rumah yang kau sebut istana Tak lama, prajurit jelek kebangaanmu memanggilku Membawaku kehadapanmu Duduk bersimbuh seperti pecundang Kau tanya padaku apa dunia ini egois? Maka kujawab YA Negara ini egois jugakah? Lagi …

Read More »

Semenanjung Pilu

Oleh: Rahmi Carolina S   Tembakau membakar waktu   Gambus lapuk Mengiang di sudut rindu   Kepada engkau yang berlalu Dan tak berniat kembali Tengok! Bebudak tu kusut nasibnya   Kota dan kampung menjual cinta Ringkas Musnah Tenggelam di mata   Kini Hari-hari kau dah tak sama   “Mari, ke sini …

Read More »

Puisi Tengah Malam

Oleh: Sri Wahyuni Fatmawati P   Pagi menjelang menutup sang malam Kala itu kumasih duduk, termenung di pinggir jalan Biar saja orang-orang melihat Biar saja mereka menerka, sedang apakah aku ini   Aku baru saja selesai Selesai merayu para lelaki yang kehausan di sana Selesai menjajakan jualanku pada mereka Ada …

Read More »

Bouche d’Ombre

Oleh: Aulia Adam   Jadis, si je me souviens bien, ma vie était un festin où s’ouvraient tous les cœurs, où tous les vins coulaient. Un soir, j’ai assis la Beauté sur mes genoux.   Ia berkata-kata, aku menunduk “Bouche d’Ombre!” teriaknya padaku Bukan! Bukan padaku, tapi pada kami berdua Lantas …

Read More »

Topeng

Oleh: Amelia Ramadhani   Megah, mewah dan wajah rupawan Kasta tertinggi, disoroti bahkan diagungkan Prestise? Jangan ditanya, bolehlah ia bertepuk dada   Langkah demi langkah, akupun berlalu Yang ini masih setara, tertata rapi dan anggun Aku berdecak kagum, “bagus nian.” Akhirnya keluar juga pujian itu   Dengan mata yang sedikit …

Read More »

Senandung Duka

Oleh: Amelia Ramadhani Wahai manusia yang berdiri di punggung pertiwi Apakah yang salah denganmu? Apakah yang telah hilang dari hatimu? Seakan-akan ibu pertiwi milikmu seorang Tanpa menyisakan tempat untuk saudaramu   Wahai para insan pilihan di atas sana Yang tersenyum duduk di atas kursi panas Melipat tangan di atas senandung …

Read More »

Antara Aksi dan Menulis

Oleh: Mezbah Simanjuntak   Aku tak tahu apa yang kulakukan benar Seorang teman pernah berkata Dan, itu sempat membuatku berpikir kembali Ia sedikit berbeda denganku dalam hal pola pikir Walau bisa kujengkali isi kepalanya jauh di bawah standarku Ia lebih memilih turun ke jalan guna menyuarakan ‘suaranya’ Aku lebih memilih berkutat dengan kertas …

Read More »

Pendekar dari Gurun

Oleh: Audira Ainindya   Wajahnya dipenuhi bulu Kumis dan janggut tebal Warnanya tentu hitam Kayak jubah yang ia kenakan   Ia tak mirip pendekar lainnya Tak punya sebilah pedang Hanya kedua tangan Tangan tanpa kekuatan   Ia bisa saja mati sekarang Seperti berita di televisi Tapi ia punya banyak kawan …

Read More »

Kiamat

Oleh: Fredick B E Ginting   Berwai dua ratus tikus hidup ayeng-ayengan sepamah Kapiran tanpa hisab sesuatu pun Sampai tiba sangkat ditabuh si pemburu, si pemusnah Tak sembarang pemusnah, tak sembarang pemburu Dua ratus itu dipancing Setumpuk kenikmatan pemuas hawa nafsu sengaja jadi alat pancing   Berdua ratus berkerumun, berdua ratus …

Read More »

Dase, Kale, Patre

Oleh: Ridho Nopriansyah   Lihat! Gajah itu terbang Sesuatu di punggungnya membentang dan meliuk Bukankah gajah sifatnya membatu di bumi Seperti pohon pisang bukan sifatnya berbuah mangga Astaga Tunggu sebentar, ini harus dirayakan Sesuatu yang tidak lazim telah terjadi Bukankah seperti itu? Pisang berbuah mangga akan dipuja dan disakralkan Bertabur …

Read More »