Home / Resensi / Cerita Tuhan

Cerita Tuhan

Oleh M Januar

Judul Buku: The Godfather
Penulis: Mario Puzo
Harga: Rp 85.000
Tebal: 680 Halaman
Edisi: Cetakan Ketiga (Edisi Juli 2012)

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

“Setiap orang hanya memiliki satu takdir.”

Suatu masa sebelum dan setelah perang dunia yang kedua di Kota New York terdapat suatu kelompok mafia yang menguasai bisnis raksasa ilegal, perjudian, taruhan pacuan kuda, dan juga serikat pekerja. Kelompok mafia ini sangat disegani dan ditakuti di dunia bawah tanah seluruh Amerika Serikat. Jaringannya sangat luas, politikus, kepolisian bahkan hakim berada di bawah kontrol kelompok mafia ini.  kelompok ini dipimpin oleh satu orang  yang menjema menjadi Tuhan. Dia adalah The Godfather, Don Corleone.

Don Corleone terlahir dengan nama Vito Andolini  berasal dari Italia, Pulau Sisilia, Kota Corleone yang lengket menjadi namanya. Dia berimigrasi ke Amerika Serikat. Don Corleone muda kabur, karena ingin dibunuh oleh kelompok mafia yang membunuh ayahnya. Sejak itu, Dia mulai bekerja sebagai importir minyak zaitun dan juga memiliki istri, tiga anak laki-laki dan satu anak perempuan. Seiring berjalannya waktu, bisnisnya berkembang dengan cara ala mafia. Dia menyuap pegawai toko dan cara licik lain sehingga produksi minyak zaitun miliknya menguasai seluruh Kota New York.

Don Corleone melebarkan sayap bisnisnya. Dia mulai berbisnis tempat perjudian, kelab malam dan bisnis ilegal lainnya. Tapi ia menolak untuk berbisnis narkotika yang jelas sangat menggiurkan. Bisnisnya berkembang pesat dan menguasai dunia bawah tanah Kota New York. Don Corleone sadar bahwa dirinya perlu kekuatan besar untuk mempertahankan bisnisnya. Dia membentuk organisasi yang ia pimpin sendiri. Dalam menjalankan bisnis dia dibantu oleh tiga orang anak lelaki Sonny, Fredo, dan Mike dan kerabatnya yang setia. Dalam menjalankan bisnisnya dia tak segan-segan untuk membunuh siapa pun yang menghambat bisnisnya.

Kelompok mafia Don Corleone tak sendiri. Mereka memiliki saingan, kelompok mafia keluarga Tattaglia. Kelompok mafia tersebut melakukan serangan terhadap kelompok Don Corleone. Perselisihan tersebut memakan korban dari dua kelompok. Anak pertama Don Corleone, Sonny Corleone, ditembak kepalanya dalam jarak satu langkah. Perselisihan tersebut akhirnya diselesaikan oleh Don Corleone dengan kepala dingin.

Meskipun tumbuh di Kota New York dan memiliki bisnis yang besar, Don Corleone tetap lelaki Sisilia kuno. Don Corleone sangat menyayangi keluarga dan teman-temannya. Dia berteman dari segala lapisan, pembunuh berdarah dingin, sampai petugas makam sekalipun. Don Corleone rela memberikan pertolongan apa saja pada siapa pun yang membutuhkan. Karena itulah dia disebut The Godfather, Sang Tuhan. Yang dia harapkan hanya satu, kesetiaan dari orang yang pernah ia tolong. Bila berani berkhianat, nyawa jadi taruhan.

Tak hanya sampai di situ, ketenangan berpikir Don Corleone dalam memimpin kelompoknya membuat kelompok mafia lain segan. Sehingga Dia dikenal sebagai negosiator ulung yang rela bersabar selama delapan jam untuk bernegosiasi. Tapi jangan sekali-kali menolak tawarannya.

Suatu ketika, Don Corleone lewat orang kepercayaannya yang bernama Tom Hagen bernegosiasi dengan produser film Hollywood, Jack Woltz, untuk memberikan peran utama dalam film pada anak baptis Don Corleone, Johnny Fontane. Namun Jack Woltz menolak tawaran Don Corleone dengan imbalan apapun. Jack Woltz yang pecinta kuda harus merelakan kepala kuda kesayangannya seharga ratusan ribu dolar dipenggal. Begitulah cara Don Bekerja.

Ternyata Tuhan, Don Corleone, punya keterbatasan. Dia meninggal di usia kepala enam. Seluruh dunia mafia berkabung karena meninggalnya Sang Tuhan. Kepemimpinannya dia serahkan kepada Mike, Michael Corleone yang memiliki sifat seperti ayahnya.

Terlepas dari Don Corleone yang merupakan pembunuh berdarah dingin, tak akan ada yang menyangkal Don Corleone adalah pemimpin yang santun. Dia rela menolong siapa saja meskipun orang yang baru pertama kali dijumpai. Dia juga punya kemampuan memimpin yang bijak. Yang jelas-jelas kita butuhkan sosok tersebut di negara ini.

Mario Puzo, sang pengarang, menceritakan kehidupan dunia mafia dengan detail. Pengarang bercerita seperti dia pernah mengalami hal tersebut meskipun dia menyangkalnya. Dia mampu memotret dengan jelas persaingan yang terjadi dalam dunia mafia, kehidupan keluarga, bahkan percintaan yang terjadi.

Tebalnya halaman tak jadi masalah untuk kita membacanya sampai cerita usai. Pengarang mampu memadupadankan cerita-cerita yang terjadi setiap tokohnya. Mario Puzo berhasil menyeret pembaca merasakan dunia mafia Amerika Serikat di tahun 1940-1960. Dunia mafia bukan hanya sekadar tembak-tembakan ala Hollywood.

Mario Puzo juga menceritakan mafia bukan hanya bergerak pada praktik ilegal, melainkan sudah menjalar ke ranah hukum dan pemerintahan. Kondisi yang sama juga terjadi pada negara ini. Meskipun novel ini sudah diterbitkan sejak tahun 1969, cerita dalam novel ini masih sesuai dengan kondisi sekarang ini. Alasan inilah yang mungkin membuat penerbit mencetak ketiga kali cerita yang telah jadi legenda ini. Mario Puzo berhasil membuat buku ini menjadi bacaan wajib.

Check Also

Sekolah Biasa Saja: Kritik Praktik Pendidikan

  Oleh: Thariq Ridho Judul : Sekolah Biasa Saja Penulis : Toto Rahardjo Penerbit : Insist Press …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *