Home / Cerpen / Dimensi Kota Metropolitan

Dimensi Kota Metropolitan

Oleh: Yulien Lovenny Ester Gultom

Ilustrasi: Yulien Lovenny Ester Gultom

Matahari menusuk kedua pupil mataku, sinar itu terpancar dari lubang triplek berukuran kepalan tangan orang dewasa. Sudah berapa kali kukatakan pada Abah untuk menambal lubang itu, nyatanya tak digubris.

Tak hanya sinar matahari, kecoa, tikus dan hewan merayap lainnya menunggu giliran masuk ke rumah.

Ini adalah istana kami. Aku, Emak dan Abah tinggal di ruang sederhana, kamar tidur, ruang makan, kamar mandi seluruhnya menyatu pada satu ruangan berukuran 3×3 meter, bisa dibayangkan betapa intimnya keluarga kami. Mau makan, tidur, dan bersantai kami sering bertatap muka, saking seringnya aku bosan dan lebih senang menghabiskan waktu di pinggir kali.

Kepalaku mengadah ke atas mencoba menikmati pagi yang hangat, pelan-pelan kuhisap nikmatnya oksigen, hidungku baru saja bersiap mengempis untuk menyerap energi dan ‘ttiiiiiiiiiiinnnnn’ suara klakson menghentikan segalanya.

“Ada kecelakaan di atas, Teh,” ujar Pak Ujang tetangga kami.

Warga kampung berbondong-bondong keluar rumah, semuanya mengadah ke atas berharap mendengar pembicaraan orang-orang dari atas.

“Pengemudinya hilang,” ujar suara dari atas. “Kemungkinan terlempar ke bawah,” lanjutnya. Kemudian beberapa suara dan kalimat-kalimat simpatik dilontarkan orang-orang di sekitar.

***

Kaki-kakiku melangkah ke kali usai kecelakaan tadi. Mood untuk menikmati sinar mentari sirna. Aku tak berangkat ke rumah belajar hari ini, firasatku kelas dibubarkan karena insiden kecelakaan tadi.

Aku berjongkok di pinggir kali dan membuat perahu kertas, aku akan menghanyutkannya ke seberang. Ketika perahuku hendak lepas landas kulihat warna air kali aneh hari ini. Gumpalan berwarna merah.

“Emak.. Ada mayat,” teriakku.

Spontan Emak berlari menghampiriku dan benar sebuah badan terbujur kaku di tengah kali.

“Ini pengemudi dari atas itu sepertinya,” ujar Emak menggigil ketakutan.

Dipanggilnya warga sekampung dan tubuh itu dibawa ke rumah kami. Mbah Djarot, dukun patah tulang, dengan sigap membasuh tubuh korban dengan ramuan dan membungkusnya dengan kain perca emakku.

Malam harinya, warga sekampung berkumpul dan membahas hal ini. Mereka menyebutnya manusia dari langit.

***

Kami sudah bertahun-tahun tinggal di bawah kolong jembatan. Di atas permukiman ada sebuah pembatas kaca yang dibangun, tapi hanya kali yang tidak dibatasi kaca.

Walau dibatasi kaca, langit dan sinar mentari masih bisa dinikmati. Konon di atas banyak jalan-jalan panjang yang dilalui kendaraan. Mereka menamainya, mobil, angkot, bus, dan sepeda motor.

Pemerintah mengisolasi penduduk miskin dan tak berpendidikan kemudian meletakkan kami di bawah kolong-kolong seperti ini. Katanya lebih baik kami tidak melihat dunia luar, karena di sana sangat kejam dan tak pantas untuk ditinggali.

Jika bersikeras naik ke atas, orang seperti kami akan dicemooh, dihina karena ketidakmampuan kami bersaing dengan orang-orang kalangan atas.

Sebulan sekali lewat sebuah cerobong di ujung gang, pemerintah mengirim bantuan. Ada banyak makanan seperti beras, beberapa dus mie, dan keperluan sandang. Gratis, tapi jumlahnya tak selalu banyak, jadi kami harus berhemat.

Tak heran jika penduduk bawah cenderung kurus dan dekil karena kemampuan kami terbatas. Untuk air, kali yang ada di depan rumah cukup membantu khususnya untuk minum, mandi, dan mencuci.

Selain itu, pemerintah menyediakan rumah belajar untuk anak yang masih sekolah, gurunya adalah masyarakat kalangan bawah sendiri.

Dahulu kata para tetua ada sebuah pintu di sebelah cerobong yang bisa diakses oleh pemerintah untuk mengecek kondisi masyarakat bawah. Berseragam lengkap mereka kompak melihat lingkungan tempat tinggal kami. Terkadang penyemprotan obat nyamuk dan pemeriksaan kesehatan gratis dilakukan, tapi kini jarang, ada inflasi ekonomi, begitu informasi dari TV.

Pemerintah menyebutnya program untuk menyejahterakan masyarakat. Puluhan tahun silam tenaga pengajar pertama diberikan oleh pemerintah untuk kalangan bawah. Setelah diajar, mereka memilih seorang anak yang unggul di kelas dan membawanya ke atas untuk disekolahkan. Harapannya si anak yang disekolahkan akan kembali ke perkampungannya dan mengabdi.

Tapi jumlahnya tak banyak sebab anak unggul yang sudah sukses cenderung menjadi sombong dan tidak mau lagi merasakan kemiskinan yang menyakitkan. Orang tua dan kerabat rela ia tinggalkan karena sudah nyaman dengan hidup mewah di atas.

Ia yang kembali dari atas memang mengabdikan seluruh hidupnya untuk warga kampung. Jumlahnya tak banyak tapi cukup untuk membantu anak-anak belajar. Ada pula yang menjadi tenaga kesehatan untuk membantu proses persalinan masyarakat bawah.

Tapi di sini kami punya Mbah Djarot, dengan ilmu turun temurun ia bisa menyembuhkan penyakit. Salah satu pasiennya adalah manusia dari langit.

***

Mata manusia dari langit perlahan mulai terbuka. Kulitnya putih mulus, rambutnya panjang dan lembut, sekilas kulihat kulit dan rambutku, cokelat dan kusam. Inilah yang dimaksud pemerintah, masyakarat kalangan bawah tak akan pernah menggapai masyarakat  kalangan atas.

“Aku di mana?” ujarnya parau.

“Di bawah, di dunia kumuh yang menderita,” ujarku.

Ia terkejut dan seolah hendak bangkit, padahal ia belum sembuh benar.

“Ah, sakit,” keluhnya.

Aku menyuruhnya beristirahat sejenak.

Seminggu kemudian manusia langit tampak lebih sehat, ia kuajak berkeliling kali dan melihat kondisi lingkungan kami. Matanya melotot dan mengerjap seolah terpukau dengan kumuhnya lingkungan yang kami tinggali.

“Inilah yang disebut bhineka tapi tak ika, berbeda tapi tak satu,” ujarku sambil tertawa.

Aku dan manusia dari langit semakin akrab, aku banyak mengkritik pemerintah padanya, berharap kelak jika ia kembali ke atas aspirasiku sampai ke pemerintah.

Pemisahan seperti ini adalah pembodohan, kataku padanya. Kami tak bermental selemah itu untuk dikasihani pemerintah, kami mampu bersaing dengan orang berpendidikan di atas, kalau kami diberi kesempatan. Yah, kami hanya butuh kesempatan.

Aku juga mengutuki pembatas kaca antara dunia atas dan bawah, seolah-olah masyarakat bawah adalah tontonan mereka yang di atas.

Keras dan tidak kerasnya berjuang di kota metropolitan adalah cara kami untuk memahaminya. Bukan memanjakan kami dengan memberi makan, pakaian, dan keperluan yang seharusnya bisa kami coba cari sendiri.

Sebulan berlalu. Luapan emosi dan isi kepalaku selalu kutumpahkan pada manusia langit. Ia benar-benar pendengar yang baik.

Tak jauh dari ujung gang, aku melihat pintu di sebelah cerobong perlahan terbuka, pria-pria berseragam yang diceritakan tetua datang lagi. Langkahnya semakin cepat ketika melihat kami.

“Nona, apakah nona baik-baik saja? Mari ikut saya kembali ke atas. Pak Presiden sudah menunggu Anda,” ujar salah satu dari mereka.

Kututup mulutku dan kusumpahi diriku yang sudah banyak bicara pada anak pemimpin negeri ini. “Bangsat!,” makiku. Pelan-pelan si nona pergi menjauh.

***

Suara bulldozer membuat warga kampung panik. Pembatas kaca dihancurkan, sebuah tangga dibangun. Semuanya tampak lebih dekat. Terima kasih, Nona.

About Portal Berita Pers Mahasiswa SUARA USU

Check Also

Ketika Semua Menolak Kehadiran Diriku Di Dekatnya

  Oleh : Yael Stefani Sinaga Harus bagaimana aku baru disebut manusia? Melentang, merayap, atau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *