Home / Resensi / Foxtrot Six, Gambaran Perlawan Masa Depan

Foxtrot Six, Gambaran Perlawan Masa Depan

Sumber Istimewa

 

“Alih-alih menjadi negara adikuasa, Indonesia tanpa sadar kembali dijajah. Memancing kembali perlawanan dari gerakan bawah tanah. Hanya untuk satu kata : Reformasi.”

Jika kita membaca sejarah, kita dapat melihat bagaimana proses penjajahan yang dilakukan bangsa Belanda dan Jepang terhadap Indonesia. Mulai dari eksploitasi tanah dan tenaga secara besar-besaran sampai kepada kedudukan di daerah yang dibeli dengan kekuasaan.

Tak bisa dipungkiri saat itu penjajah hampir sebagian penuh menguasai sistem pemerintahan dan ekonomi di Indonesia. Akhirnya membuat rakyat menderita dan memancing munculnya gerakan bawah tanah oleh sekelompok orang. Tujuannya satu, yakni merdeka.

Hal ini lah yang saya lihat coba dikembalikan oleh sang sutradara, Randy Korompis. Diceritakan pada tahun 2031 dunia sedang dalam masa krisis ilkim yang merosot. Banyak negara gagal panen sehingga membuat harga bahan pangan melonjak. Ekonomi dunia seketika terbalik.

Indonesia yang memiliki tanah subur menjadi pengekspor bahan pangan terbesar pada saat itu. Hal ini membuat Indonesia menjadi negara adikuasa ekonomi selanjutnya. Alih-alih mulai berkembang, semuanya hancur ketika politik nakal muncul yakni, Piranas.

Keinginan menjadi negara promotor ekonomi dunia, ternyata politik nakal berhasil merebut sistem pemerintahan dan perekonomian Indonesia pada saat itu. Rakyat dibohongi dan ekploitasi pun terjadi kembali. Lagi, munculnya perlawanan gerakan bawah tanah yang disebut garakan reform. Tujuannya satu, yakni reformasi.

Selain sisi sejarah dan nilai perjuangan, Foxtrot Six juga menyisipkan cerita drama percintaan yang ditampilkan. Angga (Oka Antara) yang dulunya mantan ambisius Angkatan Laut berubah menjadi salah satu anggota partai Piranas. Ia kehilangan tunangannya seorang jurnalis lapangan yang menjadi pemenang penghargaan yang dikabarkan meninggal dunia bernama Sari Nirmala (Julie Estelle).

Sumber Istimewa

Film ini menjadi inkarnasi perjuangan Indonesia pada masa penjajahan dan proses kemerdekaan 74 tahun lalu. Dimana munculnya gerakan bawah tanah tersembunyi yang berisikan orang-orang yang sadar akan sistem politik yang ada di Indonesia pada saat itu. Mereka sekumpulan orang yang rindu perubahan dan ingin merebut kembali sistem pemerintahan semana mestinya.

Bedanya adalah ketika pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia perlawanan dilakukan masih menggunakan alat-alat perang yang sederhana. Tak hanya itu propaganda pun dilakukan baik melalui demonstrasi dan tulisan. Sedangkan dalam film ini perlawanan sudah menggunakan alat-alat perang yang canggih dan modern. Belum lagi didukung dengan teknologi yang sudah sangat maju.

Dilansir dari idn.times dengan produksi film yang menggunakan computer graphics interface (CGI) mampu menghasilkan gambar visual yang sangat baik. Tak tangung-tangung ini langsung dikelola oleh Andrew Juano yang telah sukses menggarap beberapa film seperti Walking Dead serta Life of Pie.

Tak hanya itu film ini pun berkaloborasi denga produser asal Hollywood, Mario Kassar. Pasalnya Mario sebelumnya telah memproduseri sejumlah film populer Hollywood, di antaranya adalah film Rambo: First Blood Part II, Total Recall, Terminator 2: Judgement Day dan Bassic Instict. Hal itulah yang membuat dalam kurun waktu seminggu penayangannya berhasil mencapai 255.856 penonton dan berhasil menduduki puncak pertama di Box Office Indonesia.

Dari film ini saya menemukan hal yang menggelitik. Indonesia pada abad ke 31 dengan perkembangan zaman dan teknologi yang semakin maju, tidak menyurutkan semangat perlawanan dan kritis terhadap sistem pemerintahan yang ada.

Ini sangat berbanding terbalik dengan kondisi Indonesia sekarang. Bahwa pada kenyataannya Indonesia saat ini sudah dikebiri demokrasinya. Tak banyak lagi kita temukan orang-orang yang berani menyuarakan keadilan dan kebenaran. Membangun gerakan untuk kritis terhadap roda pemerintahan.

Semua dibungkam dengan kebijakan yang tidak mendasar yang pada akhirnya menjadi alat bagi pemerintah anti kritik. Tak hanya pemerintahnya, bahkan tak bisa dipungkiri rakyat juga ikut mendukung adanya perilaku menyimpang. Dilihat dari maraknya ujaran kebencian berujung pada kasus pelecehan terhadap Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA).  Ini lah yang membuat sila-sila yang ada di Pancasila sudah terberangus esensinya.

Jadi, bagi anda yang mencintai film bergenre perlawanan dan perjuangan, foxtrot six mungkin bisa menjadi pilihan.

About SUARA USU

Check Also

Velvet Buzzsaw: Kontradiksi Nightcrawler

  Oleh: Surya Dua Artha Simanjuntak Judul Velvet Buzzsaw Sutradara Dan Gilroy Penulis Skenario Dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *