Home / Resensi / Gadis Pantai, Ilustrasi Ketimpangan Pribumi dan Priayi

Gadis Pantai, Ilustrasi Ketimpangan Pribumi dan Priayi

Oleh: Amelia Ramadhani

Judul : Gadis Pantai
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Tahun Terbit : 2015 (Cetakan kesepuluh)
Jumlah halaman : 280 halaman
Harga : Rp 42.000,-

Rasanya buku ini sangat cocok dengan kutipan Penulis pada sampul belakang buku. Novel ini menceritakan tentang ketidakberdayaan masyarakat kalangan bawah melawan kekuasaan dari priayi.

Foto: Vanisof Kristin Manalu
Foto: Vanisof Kristin Manalu

Gadis Pantai merupakan roman yang tidak selesai. Sejatinya buku ini berisi cerita berkelanjutan yang dikemas dalam trilogi. Namun dua dari buku ini ludes dibakar oleh angkatan darat ketika semua buku karangan Pramoedya Ananta Toer dilarang peredarannya di Indonesia. Satu buku dari novel trilogi ini diselamatkan oleh salah satu mahasiswa Universitas Negeri Australia, yang menjadikan buku ini sebagai bahan kajian tesisnya.

Sama dengan novel Penulis pada umumnya, novel ini berlatarkan kehidupan masyarakat di Pulau Jawa. Kali ini, Gadis Pantai menceritakan perbedaan kehidupan antara masyarakat Kampung Nelayan, beberapa pembesar Belanda, serta pedagang yang tinggal di kota.

Penulis menggambarkan Gadis Pantai sebagai seorang kembang desa yang kecantikannya tersohor seantero Jawa. Ia juga anak yang patuh kepada kedua orang tuanya. Sikap dan tindak tutur Gadis Pantai disukai oleh semua penduduk Kampung Nelayan. Tak hanya pemuda yang jatuh hati akan kecantikannya, namun banyak juga laki-laki paruh baya yang menginginkannya untuk menjadi istri.

Kecantikan Gadis Pantai tak hanya menjadi bulan-bulanan di Kampung Nelayan. Kecantikannya juga memikat hati seorang priayi tua yang ada di kota. Ia kerap dipanggil Bendoro. Ia bekerja pada bagian administrasi Belanda dan juga dikenal sebagai santri yang taat beribadah.

Sedang asyik menikmati masa remaja, datanglah pinangan dari kota kepada Gadis Pantai. Berita suka tersebut dibawa oleh Kepala Desa Kampung Nelayan kepada orang tua Gadis Pantai. Namun, berita suka ini tak dikehendaki Gadis Pantai. Ia tak mau dikawinkan dengan Bendoro. Ia berontak kepada ayahnya. Tapi ayah Gadis Pandai memaksanya mengucapkan pangestu atas lamaran tersebut.

Ia tak dinikahi secara Islam walau si Bendoro adalah santri terkenal di daerah Rembang. Gadis Pantai dinyatakan istri Bendoro setelah kedua orang tuanya menerima keris tersebut. Pada umumnya seorang santri akan mengucapkan ijab kabul saat melakukan pernikahan di depan beberapa saksi, atau pun seorang nasrani juga akan mengucapkan janji di depan pendeta.

Penulis berusaha menghadirkan rasa ketidakadilan terhadap Gadis Pantai melalui dialog dan narasi yang singkat. Jawaban-jawaban penurut Gadis Pantai ketika bercakap dengan Bendoro memberitahu pembaca bahwa ada kesenjangan kasta di antara mereka. Hanya kata ‘Sahaya Bendoro’ yang mampu diucapkan Gadis Pantai di depan Bendoro.

Novel ini hanya menyuguhkan dialog-dialog singkat antar tokoh yang ada di dalamnya. Namun, ketidaksetaraan antara orang-orang penghuni rumah yang ditinggali Gadis Pantai sangatlah terasa. Beberapa pelayan tidak berani menatap mata Gadis Pantai ketika berbicara, karena ia adalah istri Bendoro. Mereka perlahan mundur ke belakang ketika pembicaraan telah selesai.

Tak hanya dalam dialog, Penulis juga menyuguhkan bentuk ketidaksetaraan strata sosial melalui gumaman para pelayan. Gumaman pelayan ini berhasil menyampaikan rasa kasihannya terhadap Gadis Pantai. Gadis cantik yang nantinya akan tetap terbuang dan terasing setelah melahirkan seorang bayi. Bahkan ia akan menghamba kepada sang bayi karena terlahir sebagai priayi.

Lagi-lagi Penulis menampilkan ketidaksetaraan ini melalui sosok pelayan baru–Mardinah—yang dihadirkan di dalam novel. Ia berasal dari Kerajaan Demak yang juga kerabat jauh Bendoro.  Mardinah juga keturunan priayi. Karena telah janda, ia dikirim untuk menjadi pelayan Gadis Pantai. Namun sikapnya tentulah  bukan sikap pelayan pada umumnya. Sebab ia seorang priayi.

Gadis Pantai hanyalah sebagai wanita penghibur bagi Bendoro. Ia tidak dimasukkan ke daftar keluarga karena ia bukan priayi. Senjangnya, Bendoro akan tetap dipandang sebagai perjaka oleh kaum priayi lainnya, sebab ia belum menikah dengan priayi.

Novel ini berhasil membawa emosi pembaca naik turun melalui narasi-narasi yang menyentuh. Terlebih saat Gadis Pantai berusaha melawan kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh pelayan mudanya, Mardinah.

Novel ini cocok dibaca oleh kalangan apa pun. Sebab Penulis menyajikannya dalam kemasan bahasa yang ringan dan dapat dimengerti. Walau kejadian dalam novel ini menceritakan tentang kehidupan di zaman kerajaan dan kolonial, namun istilah yang digunakan dapat dipahami secara mudah.

Di akhir cerita, Penulis berusaha mengahadirkan wujud pembelaan kaum pribumi terhadap nasibnya. Setelah terusir dari istana Bendoro, Gadis Pantai tak bersedia pulang bersama orang tuanya ke Kampung Nelayan. Ia meminta izin untuk memperbaiki nasib dan merantau ke kota yang jauh dari kampung. Ia berjanji kepada orang tuanya untuk memberikan kehidupan yang lebih layak.

Namun sayang, Pembaca tidak dapat menikmati hasil dari pembelaan nasib si pribumi. Penulis sengaja memangkas ceritanya sebab akan dilanjutkan pada buku kedua kemudian dirangkaikan pada buku bagian ketiga. Pembaca harus rela ditinggal dengan rasa penasaran dan berhenti pada akhir cerita yang tak selesai.

About Portal Berita Pers Mahasiswa SUARA USU

Check Also

Sekolah Biasa Saja: Kritik Praktik Pendidikan

  Oleh: Thariq Ridho Judul : Sekolah Biasa Saja Penulis : Toto Rahardjo Penerbit : Insist Press …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *