Home / Cerpen / Galur Jarah Wasiat

Galur Jarah Wasiat

Ilustrasi: Surya Dua Artha Simanjuntak

 

Oleh: Sagitarius Marbun

“Aku hidup di budaya patrinilinear. Aku tak punya hak atas itu.”

Sore itu suamiku menyuguhkan teh panas dengan asap masih mengepul. Ia meletakkan di meja kaca depanku, ia mengangkat alis sebelah kanannya. Buatku, isyaratnya. Ini diluar kebiasaannya. Ia tak romantis, sangat tidak. Aku terbiasa.  Ia duduk di sampingku, menghidupkan televisi dengan remote di tangan dan mengecilkan suaranya. Aku mencoba tak ambil pusing. Kulanjutkan ke buku roman picisan di tanganku.

“Bagaimana kabar kampung?” pertanyaan ini membuatku menoleh sejenak.

“Masih sama, kasihan Bapak,” kataku benar-benar meninggalkan buku itu. Aku mengharapkan pembahasan lebih.

Ia diam cukup lama, aku menatapnya dalam. Pria yang meminangku di depan bapak dengan sangat biasa saja. Datang, diam, dan menyikut bapaknya supaya menyatakan niatnya datang ke rumah.

“Kenapa tak kau ajak kemari?”

“Apakah itu ide yang bagus?”

Pertanyaan itu begitu saja. Menggantung. Lalu kusimpulkan itu retorik. Aku izin pulang ke kampung dan esoknya membawa bapak dari kemelut masalah ke kota yang hingar. Aku harap itu dapat mengurangi beban pikirannya dan melupa sejenak.

Aku salah. Besar. Setelah bapak  tinggal beberapa hari gawaiku berbunyi hebat. Adik, abang, kakak tak henti-henti menelepon. Ada apa, pertanyaan serupa kulontarkan.

“Jangan cari muka,” jawaban serupa dilontarkan kembali.

Aku tak mengerti.

Bapak terlihat gusar sejak itu, ia jadi sering tak tidur dan melamun di bawah bintang kota yang ditelan polusi. Ubannya semakin bertambah dan tubuhnya semakin kurus kering.

“Aku rindu rumah,” kata bapak suatu malam.

“Bapak coba pikirkan lagi. Aku takut di kampung Bapak semakin tak sehat,” bujukku.

Ia tak menjawab. Aku harus menjawab dalam hati kembali. Tapi apakah yang ini salah juga. Begitu tak demokrasinya keluargaku ini.

Esoknya bapak kuantar ke kampung, setelah berdebat panjang dengan suamiku, “Sampai terminal saja, Bapak cukup pandai untuk sampai ke rumah dengan selamat.”

Usai kata-kata itu dilontarkan, aku berjanji akan memberinya pelajaran. Nanti malam, tidurlah sendiri. Terserah mau kemana kau buang sampahmu.

“Terima kasih tak ikut andil seperti saudaramu, kuharap begitulah seterusnya,” ucap ayah sebelum aku meninggalkan rumahnya (dulu rumah kami).

Aku mengangguk. Bapak begitu menderita, keriputnya semakin  bertambah. Tak lupa aku pulang dan menitip bapak ke istri abang pertamaku yang judesnya minta ampun. Ia mengangguk cepat, secepat ingin mengusirku dari rumah itu.

“Seharusnya sebelum kau mengantar ayah pulang, kau tanya tanah bagian kita di sebalah mana,” kata suamiku ketika aku sampai di rumah.

Aku menatapnya dalam. Darahku mendidih.

“Aku hidup di budaya patrilinear, aku tak punya hak atas itu.”

“Bagaimana dengan adik dan kakakmu, sama saja kan?”

“Aku berbeda.”

“Bodoh. Keras kepala,” bentaknya.

“Kenapa?” tanyaku konyol.

Ia diam.

“Kita punya tenaga yang masih penuh, kita bisa mencari kesejahteraan tanpa memperebutkan warisan yang tak berwujud itu. Setidaknya tak menambah beban pikiran Bapak. Kuharap kau juga mengerti,” aku meninggalkannya. Dengan selimut dan bantal kulempar keluar.

Aku salah menilai suamiku yang tak sanggup mengucap kata cinta itu, aku pikir ia akan mendukungku untuk menguatkan bapak dari cemerut perebutkan warisan siluman itu. Tapi nyatanya.

Aku mendapat kabar, tanah tempat kami main layangan kala kemarau sudah dikeruk alat berat, sudah jadi kolam-kolam coklat tak berbentuk. Katanya bapak menjualnya ke kondektur dengan membubuhi cap tangan.

Aku kenal bapak, pasti ada orang lain di belakangnya. Kolam-kolam itu tak bisa lagi di olah, jentik nyamuk pun enggan di sana.

Dua bulan kemudian tanah yang lain kembali di keruk, asap-asap pembakaran batu bata mengepul, jalan-jalan berdebu tebal.

Begitu seterusnya. “Bapak keras kepala,” kata kakakku menyerah ketika ia datang menemuiku di bilik bapak, merapikan baju yang tak dibawanya.

Aku tak menanggapi.

“Ternyata ipar-ipar kita lebih licik. Kasihan Bapak.”

Aku tetap tak menanggapi.

“Aku menyesal.”

“Terlambat.” Air mataku berlinang.

Petir menggelegar mengertak kuburan merah bapak. Semesta mengutuk manusia yang membebankan pikiran orang tua itu.

About SUARA USU

Check Also

Perempuan di Tanah Hierarki

  Oleh: Putra P. Purba “Aku berada di tanah cendala dalam tatanan mahajana. Mampu menatap, namun …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *