Home / Cerpen / Heike

Heike

Oleh: Harry Yassir Elhadidy Siregar 

Selamat jalan, semoga kembali dengan senyuman. Kata itu masih melekat di pikiran Heike sebelum berangkat ke Avava, daerah konflik di perbatasan dua negara Asia Timur.  Suara direkturnya itu semakin membulatkan tekad Heike untuk mebidik semua foto kebengisan di daerah itu. Di dalam pesawat Garuda Indonesia ia kembali membuka buku : Avava, Pemusnahan Wanita dan Anak Besar-besaran, setebal 234 halaman. Ia duduk di bagian tengah pesawat. Air matanya menetes setelah melihat foto di halaman dua puluh. Ini kali kesekian ia meneteskan air mata setiap melihat foto itu. Jonty, gadis belasan tahun dalam foto itu harus melihat ibunya diseret serdadu dengan penutup kepala. Jonty menangis sendiri dengan lima ujung senapan di kepalanya.

Heike langsung menutup foto itu. Kemuakannya kembali mencuat dengan negara yang presidennya terkenal humanis itu.

“Omong kosong!” katanya dalam hati.

Masih ada empat jam lagi untuk sampai di bandar udara (bandara) negara tersebut. Heike membuka buku itu lagi. Membaca bab terakhir, yang belum pernah disentuhnya. Emosinya tertahan ketika membaca judul bab itu. Presiden : Avava Potensi Pusat Produksi Gas Dunia. Sesaat judul bab itu menimbilkan pertanyaan di hati Heike. Avava, setaunya adalah negara penghasil minyak bumi dan laut. Sejak kapan Avava penghasil gas. Ia kembali dipusingkan dengan halaman baru itu.

“Penumpang yang terhormat, lampu tanda darurat telah dihidupkan. Harap gunakan sabuk pengaman anda, tegakkan sandaran, dan tetap berada di kursi anda,” tiba-tiba suara pramugari terdengar.

Pesawat yang dinaikinya mengalami keadaan darurat. Buku itu kembali ditutupnya dan dimasukkan ke bagasi kursi. Heike diam memperhatikan sekelilingnya. Beberapa tampak panik dengan raut wajah yang ketakutan.

“Harap tenang keadaan darurat ini hanya dipengaruhi cuaca buruk,” jelas pramugari itu lagi.

Di luar cuaca memang tak bersahabat. Awan gelap membuat pandangan tak begitu jelas. Sesekali terlihat kilat dari ujung awan itu. Heike hanya diam, termenung. Pikirannya berkecamuk antara kondisi darurat pesawat dan keadaan daerah perbatasan itu.

Ia mencoba tidur agar pikirannya tenang. Suasana masih kacau. Alarm tanda bahaya terus berbunyi. Peringatan dari awak pesawat terus terdengar.

“Paling karena cuaca buruk,” pikirnya menenangkan diri.

***

19.25 waktu setempat, pesawat mendarat dengan selamat. Telat satu jam setengah dari waktu yang direncanakan. Heike dijemput salah seorang yang sudah ditugaskan.

“Monrov,” kata pria tampan itu memperkenalkan diri di ruang tunggu

“Heike,” jawabnya.

“Nama yang indah,” kata pria itu lagi.

“Terima kasih. Pemberian kakek dulu,” jawab Heike tanpa basa-basi.

Mereka melanjutkan perjalanan langsung ke Avava. Masih butuh waktu delapan jam untuk sampai ke daerah perbatasan itu. Beberapa kali mereka berhenti untuk makan dan istirahat.

“Tampan juga orang-orang sini,” pikir Heike

Tepat dini hari mereka tiba di kamp perbatasan. Belum ada tanda-tanda kehidupan. Semua masih terlelap di rumah masing-masing. Heike langsung mengeluarkan kameranya. Jepret satu dua kali di beberapa titik yang menurutnya unik.

Cuaca di daerah itu memang agak sedikit dingin. Tak heran kalau angin begitu terasa saat heike membuka kaca jendela mobil. Sepanjang jalan hanya terlihat rumah-rumah petak dari batu bata berwarna abu-abu kusam. Sedikit lebih besar ukurannya dari batu bata di negara Heike.

Kanan kiri terlihat cukup rapi walau tak ada pepohonan. Rumah penduduk saling bersatu dan menunjukkan tak ada perbedaan. Kasat mata, daerah itu terlihat seperti daerah yang aman dan sejahtera.

Tolong….!

Tiba-tiba terdengar suara teriakan minta tolong. Sepertinya seorang wanita atau anak-anak perempuan. Suaranya tak jelas, sedikit tertutupi angin yang begitu kencang.

“Tolong,” katanya lagi

Heike panik. Ia tak tahu suara itu dari mana.

“Sebentar Monrov, sepertinya ada suara minta tolong, siapa itu?” tanya Heike

Monrov menghentikan mobilnya. Keluar dan melihat sekelilingnya. Sepi. Tak ada siapa-siapa.

“Nggak ada suara kok,” kata Monrov memasukkan kepala ke dalam mobil

Heike memakai syalnya dan keluar. Tak lupa ia membawa tas kesehatan dan kameranya DSLRnya.

“Iya, aku tadi mendengar suara minta tolong. Tapi tidak begitu jelas,” kata Heike.

“Itu suara itu terdengar lagi! Sepertinya dari arah sana,” Heike menunjuk arah barat.

“Iya. Aku juga dengar. Oke, kita langsung kesana,” sambung Monrov

Keduanya berjalan pelan ke arah Barat. Monrov mengingatkan untuk tetap waspada. Biasanya ada tentara yang menyergap warga jika ada minta tolong seperti itu. Mereka semakin dekat dengan suara minta tolong itu.

Jantung Heike semakin berdenyut kencang. Ini kali pertama ia terjun ke dunia konflik seperti ini. Semakin dekat dengan suara itu, semakin kencang denyut jantungnya.

“Tolong, saya disini,” kata perintih suara itu melambaikan tangannya ke arah Heike dan Monrov

Heike refleks langsung berlari dan menghampirinya. Di depannya seorang wanita tua dengan kaki yang merah dilumuri darah. Tangannya menutupi kakinya itu. Otomatis seluruh tangannya juga memerah. Heike langsung melihat dibalik lumuran darah itu. Sebuah lubang bekas peluru jelas di betis kanannya. Heike langsung mengeluarkan kotak P3k dari tasnya. Sebuah tas hitam bermerek Canon tak disentuhnya sedikitpun. Bahkan dilepaskannya dan diletakkannya di tanah. Setelah selesai mengobati luka tembakan tersebut, Monrov menanyakan mengapa wanita tua itu bisa seperti itu.

Ia menceritakan malam tadi sekitar pukul delapan terjadi baku tembak antara pemerintah dengan separatis. Ia baru balik dari pasar dan tiba-tiba kakinya lemas sebelah. Setelah itu ia tak tahu lagi apa yang terjadi. Sampai ia bangun dan suasana sudah sepi dan malam.

“Sekarang saya sangat lemas sekali,” katanya terbata-bata

Tak sadar Heike meneteskan air matanya. Tangannya masih merangkul wanita tua itu. Ia ingat pada orang tuanya di kampung. Ia tak bisa membayangnkan jika orang tuanya yang mengalami hal demikian.

Mereka pun membawa wanita tua itu ke tim kesehatan terdekat dan meyerahkannya kepada keluarganya. Tak jarang Heike masih meneteskan air matanya diam-diam di sepanjang ke perawatan medis ketika wanita tua itu bersandar di badannya.

Mereka langsung menuju ke rumah yang telah disediakan Monrov di sebelah Barat posko kesehatan.

***

Satu bulan sudah Heike berada di Avava. Banyak foto yang sudah ia dapatkan, sesuai dengan tujuan utamanya datang ke daerah itu. Banyak cerita dan pengalaman yang ia dapatkan. Ia kembali pulang diantar oleh Monrov, orang yang ditugaskan untuk menemaninya selama di daerah itu.

Di sepanjang jalan, seperti awal kedatangan, mereka banyak menghabiskan waktu untuk ngobrol secara pribadi atau saling berbagi cerita. Beberapa kali mereka berhenti untuk istirahat atau mengisi rasa lapar.

Tiba-tiba di perjalanan, Monrov menanyakan Heike tentang sesuatu.

“Ke, kenapa kamu tidak mengabadikan momen wanita tua dini hari waktu itu? Tanyanya

“Oh, itu,” sambung Heike.

Menurutnya, foto tak selamanya mengejar waktu atau kejadian. Seorang fotografer jugalah manusia yang memiliki hati nurani, perasaan dan tanggung jawab sosial. Tanggung jawab bukan hanya mengabadikan foto dan menunjukkannya kepada semua orang. Tapi, juga menolong orang yang benar-benar membutuhkan pertolongan cepat.

“Aku merasa bersalah jika memiliki foto ibu itu,” katanya.

“Tapi kan kamu bisa ambil foto dulu kemudian menolong dia,” lanjut Monrov

Heike menjelaskan kepada Monrov. Hidup itu bukan skala prioritas, kawan. Hidup adalah memberikan yang terbaik pada kesempatan pertama. Bisa saja ia meninggal jika aku mengambil fotonya terlebih dahulu. Bisa juga ia tak apa-apa.

“Tapi aku lebih memilih kesempatan pertamaku pada pertolongan dia,” tambah Heike

Setiap orang punya prinsip dan apa yang ingin dijalaninya. Walaupun Heike seorang fotografer yang selalu bermain kecepatan waktu dan momen, tapi ia punya prinsip sendiri sebagai seorang fotografer.

Mobil pun melaju sedang sampai mereka tiba di bandara dan Heike kembali ke negaranya, Indonesia.

“Sampai jumpa Avava,” kata Heike di dalam pesawat melambaikan tangan lewat jendela.

“Hidup adalah memberikan yang terbaik pada kesempatan pertama” (Heike)

Check Also

Saat Dia Tersesat dan Mencari Jalan Pulang

  Oleh: Yael Stefany Sinaga “Jika salah maka benarkan. Tapi hasrat melambung tinggi dengan cepat.” …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *