Home / RAGAM / Kesehatan / Jangan Beli Gadget untuk Anak!

Jangan Beli Gadget untuk Anak!

Oleh: Gio Ovanny Pratama

Masa anak-anak dan balita adalah masa emas perkembangan, baik dari segi fisik maupun psikologi. Namun apa jadinya jika anak-anak dan balita lebih sering berinteraksi dengan gadget dibanding dengan teman seusianya?

Sumber Istimewa.
Sumber Istimewa.

Perkembangan dunia digital dan gadget akhir-akhir ini sangatlah pesat. Berbagai gadget dari berbagai merek terus bermunculan. Beragam fitur dan keunggulan yang terus diperbarui menarik minat pengguna. Gadget bukan lagi jadi barang mewah.

Tak mau ketinggalan, anak-anak dan balita pun akrab dengan gadget. Walaupun sebatas untuk bermain games dan aplikasi-aplikasi ringan lainnya. Walaupun begitu tampaknya lebih sering kita lihat balita berlama-lama dengan gadgetnya daripada bermain dengan teman sebayanya. Sebuah survei yang dibuat oleh Kaiser Family Foundation membuktikan itu.

Hasil penelitiannya membuktikan pada umumnya anak-anak usia sekolah menghabiskan waktu hingga tujuh jam dalam sehari bersama gadgetnya. Hasil ini hampir menyaingi lamanya waktu bekerja normal seorang dewasa: delapan jam sehari.

Namun penggunaan gadget pada usia sekolah dan balita berdampak bagi fisik dan psikologi anak. Dari segi fisik anak yang kecanduan gadget akan mudah terpapar radiasi, apalagi seorang balita.

Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Leeds di Nottingham dan Universitas Manchester and Institute of Cancer Research di London, Inggris menjelaskan balita memiliki syaraf-syaraf yang masih berkembang serta tengkorak yang masih tipis. Sehingga balita akan menyerap radiasi sepuluh kali lebih cepat dibanding orang dewasa. Dikhawatirkan anak akan mudah terpapar radiasi yang dipancarkan. Hal ini akan meningkatkan risiko penyakit kanker pada anak-anak di masa dewasanya.

Radiasi cahaya dari layar smartphone tentunya berbahaya untuk mata anak, warna yang terang dapat membuat otot mata lelah bahkan berubah secara fisiologis. Apalagi jika jarak antara mata dan layar terlalu dekat dan cahaya dari matahari tak cukup untuk penerangan. Akibatnya, mata bisa rabun jauh. Kenyataannya sekarang sudah banyak anak-anak usia sekolah yang menggunakan kacamata, maka tak tertutup kemungkinan balita-balita akan menggunakan kacamata minus juga.

Kecanduan dan penggunaan gadget dalam waktu yang lama juga berakibat pada psikologi anak. Menurut American Academy of Pediatrics, anak-anak yang kecanduan gadget akan mengalami gangguan dalam perkembangan bahasa, membaca, dan daya ingat jangka pendek. Anak-anak juga akan susah mengenali stimulus atau rangsangan dari luar. Rangsangan dari layar gadget tidak dapat memberikan interaksi dua arah, tak ada saling pandang, anak jadi tak bisa belajar membaca ekspresi, padahal anak-anak seumuran balita harus belajar berinteraksi dengan orang lain dalam rangka perkembangan bahasa, mental dan psikologinya.

Kemudian anak yang kecanduan gadget akan bersikap pasif dalam pergaulan sehari-hari. Anak-anak akan malas dalam melakukan aktivitas fisik. Padahal anak-anak dan balita butuh aktivitas fisik untuk perkembangan saraf sensorik dan motoriknya. Perkembangan saraf sensorik dan motorik anak dapat berkembang dengan cara memegang, menyentuh, mencium, melihat serta mendengar.

Agar sensorik dan motoriknya berkembang, ini anak lebih butuhkan objek yang nyata dibanding objek yang ada di dalam gadget. Maka tak tertutup kemungkinan anak-anak dan balita akan antisosial dan cenderung sibuk dengan dunianya sendiri atau autis.

Padahal kita punya banyak permainan tradisional yang bisa dimainkan secara bersama-sama yang melibatkan anggota tubuh bergerak. Sebab ada interaksi dan terbina sebuah ikatan batin antara dirinya dan teman-temannya. Sehingga tercipta rasa kepedulian dan rasa sosial.

Bandingkan dengan permainan yang ada di gadget, lebih bersifat individualis dan tak banyak menggunakan anggota tubuh untuk bergerak. Maka dari sekarang ada baiknya mulai batasi penggunaan gadget untuk anak-anak dan balita. Serta jangan pernah membelikan gadget untuk mereka!

About Portal Berita Pers Mahasiswa SUARA USU

Check Also

Mythomania: Bukan Bohong Biasa

Oleh: Vanisof Kristin Manalu Kebiasaan terlalu sering berbohong bisa berdampak buruk bagi kesehatan mental. Salah …