Home / Cerpen / Kala

Kala

Oleh: Adinda Zahra Noviyanti

Wah! Benarkan negaraku tak lagi terima minoritas? Ah, Kurasa tidak. Hanya ada yang salah dari pemikirian mereka. Atau ini hanya kurasa. Apa yang kurasa tak selalu benar. Malah dominan salah. Tapi kurasa-rasa kali ini saja aku benar-benar tak salah. Ya! Aku benar.

“Kapan Abang balik ke Indonesia?” tanya tetangga dalam bahasa Melayu.

“Kapan-kapan sajalah,” jawab pria muda sambil senyum.

***

Jalanan berjibun lubang. Becek-becek penuh air sebab malam lalu hujan. Setiap desa yang dilewati ada satu laki-laki atau perempuan-perempuan. Tidak pakai baju, tidak pakai sandal, tidak sisir rambut, tidak mandi, suka berbicara tak tahu pada siapa, keluarga ada entah dimana. Kurasa lagi mereka ada di negeri seberang sana. Mungkin.

Nyaring suara klakson. Bapak-bapak memaki, kebun binatang tak berpagar. Garis putih lalu lintas diterobos. Pemuda meminta-minta. Bawa kardus dilengannya. Berharap penisnya diberi ampun.

29 kilometer, 75 menit jarak waktu tempuh itulah yang harus kulewati kala fajar –kurasa segitu, tapi sepertinya tak setepat itu. Katanya untuk menimba air. Bukan, maksudku menimba ilmu. Arah jamku menunjuk ke anggka yang tak miliki ujung. Biasa aku tiba di tempat yang katanya kampus ungu. Kampus teknik dengan mata kuliah yang lumayan padat. Bisa-bisa lemakku lenyap dalam sebulan.

Ada perbincangan temanku yang kulihat di koridor kampus. Sama seperti yang sedang tranding topic di media sosial pagi ini. Penyerangan brutal dilakukan anak laki-laki berusia 17 tahun di sebuah tempat peribadatan. Tempat suci yang seharusnya menciptakan perdamian namun dirusak oleh orang yang merasa paling benar dan menginginkan kehancuran yang sebarnya bisa diatasi dengan  indahnya keberagaman.

Aku seorang Kristen, aku Hindu, aku Budha, aku Kong hu chu, atau aku atesis sajalah. Ada yang bersujud menyebut nama-Nya. Ada yang mengepalkan tangannya sembari lafalkan keinginan. Ada yang bakar lidi sambil ucapkan puji syukur. Ada yang hidup dengan kekuatannya sendiri.

Diskusi kami seputar “Bumi Manusia” Pramoedya Ananta Toer. Keberagaman, politik indonesia, sejarah, dan internasilonal.  Tapi ketahuilah kami bukan orang pintar yang yang mengetahui segala hal. Kami hanya seorang biasa yang ingin mengetahui banyak hal melalui diskusi.

Senja itu, kami diskusi soal umat beragama di Indonesia. Indonesia dengan sejuta keberagaman mampu hidup puluhan tahun dengan tingkat keberagaman yang tingginya luar biasa. Gejolak yang timbul akibat terorisme menyelinap masuk ke dalam ketentraman bangsa. Mengobrak-abrik ketentraman.

Di sela diskusi, gejolakku semakin kuat saat ditanyanya, “Apa kami salah terlahir di dunia sebagai umat non islam?”

Mataku mengarah ke sekelilingku, berharap tak ada yang mendengarnya. Pertanyaan itu rasanya mendalam sekali.

“Apa aku mau dilahirkan dari umat yang salah kepercayaan?”

Aku hanya diam sambil menunggunya melanjutkan pertanyaannya. Nadanya semakin tinggi saja. Hanya isyarat tubuh yang kusampaikan menyuruhnya merendahkan suaranya. Entahlah apa yang ada dikepalanya hingga dia bertanya hal tersebut. Pertanyaanku soal maksud ucapannya ingin segera kusampaikan. Namun, kutunggu ia redam. Seakan tahu isi kepalaku, ia melanjutkan.

“Aku sedang urus dokumen pemindahan kewarganegaraanku. Aku akan ke negeri ziran. Indonesia tak terima kami. Lebih dari 80 persen umat mungkin tolak kami disini. Indonesia tanah kelahiranku tak bisa menjagaku, tak bisa buat aku tenang dalam tidur. Setiap dentuman seolah setiap detik mengancam kami yang lahir tak dari satu iman.”

Diam tanpa nada. Hanya pandang-pandangan yang ada. Air mataku menetes setetes tanpa sadar. Kusembunyikan. Separah inikah kondisi negaraku tercinta? Tempat aku dilahirkan. Tempatku menanam benih kehidupan. Negeri beribu musim. Musin hujan, kemarau, buah durian, buah rambutan, dan semua buah—bahkan ada musim kawin dan meninggal. Tempat beribu budaya yang tumbuh, lahir, bertranformasi.

“Kau salah!” tegasku lalu diam.

Diamku adalah kekecewaanku. Rasanya sia-sia saja diskusi kami selama ini. Bahas banyak hal tentang pedoman sendiri. Sudah pernah kubilang kata moyangku aku hidup karena Allah. Katanya apapun yang aku lihat dan tak kuliat adalah buatan Allah juga.

Berarti perbedaan juga ciptaan-Nya bukan?

Sudah pernah kubilang kalau umat salahkan kepercayaannya lain, bukankah secara tidak langsung dia salahkan ciptaan Tuhannya. Salahkan apa yang ia percayai. Salahkan yang ia sembah.

“Tapi, pindah sajalah kau.”

Kuharap semua orang sepertinya pindah. Ya! Pindah saja. Jauh-jauh. Jangan dekati orang seperti yang kubilang. Tinggalkan saja mereka. Biarlah dirasakannya hidup sendiri tanpa perbedaan. Biarkan dia nyaman dengan ‘kesatuannya’. Karna aku tak seperti mereka. Bisakah kuputuskan pergi mengajak semua orang sepertiku untuk ikut bersama orang-orang seperti dia. Kurasa bisa saja. Iya, biar orang-orang yang kubilang tadi lagi-lagi hidup sendiri tanpa perbedaan.

***

Inilah rumahnya sekarang. Kampung orang jadikan rumah tempat paling nyaman untuk tinggali. Tanpa harus was-was karena sedikit perbedaan di kartu identitas. Meski harus tinggalkan halaman rumah.

“Kapan pulang ke Indonesia, Bang?” kata tetangga.

“Kapan-kapan sajalah, kewarganegaraanku sekarang Malaysia, kampungku sekarang Malaysia. Mungkin sedikit lebih damai dari kampung,” jawab pria muda dengan wajah bahagia.

About Portal Berita Pers Mahasiswa SUARA USU

Check Also

Ketika Semua Menolak Kehadiran Diriku Di Dekatnya

  Oleh : Yael Stefani Sinaga Harus bagaimana aku baru disebut manusia? Melentang, merayap, atau …