Home / Puisi / Kota Serakah

Kota Serakah

Oleh: Ahmad Sufriansyah

Jakarta kota serakah
Penuh marah, penuh amarah
Jakarta bukan lagi kota yang ramah
Paling-paling esok, lusa
Atau waktu yang akan datang semua akan punah

Melirik tajam panji-panji pancasila
Mengikis kian terbungkam
Menggagalkan ingatan kebersamaan
Yang ada berkat pemersatuan
Bukan, bukan dengan waktu sebegitu singkat
Bukan, bukan hanya sekejap mengedipkan mata

Susah-payah mendirikan suatu bangsa
Namun koyak hanya dengan kekonyolan media
Yang mendominasi seperti gagap
Padahal ia berdiri tegap
Takut, ketakutan layaknya kian hari kian mendekap

SARA begitu nyaring diteriakkan
Ketika pemilihan tiba
Tidak, tidak, saya tidak berpihak pada seseorang
Saya hanya ingin kesetaraan yang merata
Jika saya hidup di kalangan hitam,
Lalu dia putih, dan bagaimana dengan si abu-abu?
Atau warna lainnya?
Kita beragam bukan pada saat meraih kemerdekaan yang hakiki?

Menggagalkan ingatan,
Kau tutup mata dengan persepsimu
Tapi saya mencoba untuk tetap mengingat
Meski kau tuduhkan ini dan itu
Kini kita sedang berada pada bagian sensitif suatu bangsa
Tergores sedikit hilang sejuta sejarah
Yang ada seperti awalan kubilang, penuh marah, penuh amarah

Kita hanya perlu sebuah dingin pada kepala
Melingkari meja, lalu dengan tenang
Tak perlu ada urat saat bicara
Seperti onani di kamar mandi saja, hening, hanya gemericik air keran
Tapi kerukunan yang selama ini terjaga ingin dikebiri secara perlahan

Jubah putih menyelimuti mengatasnamakan Tuhan
Tuhan mana yang kau bela?
Diri-Nya sempurna tanpa cela
Jika ada seorang yang salah diri-Nya yang menilai, bukan engkau
Jangan jadi suci karena leluhurmu,
Belum tentu doa-doamu itu mujur, sebab sebagian dosa sudah telanjur

Hina saja orang yang berbeda,
Lupakan juga panji-panji pacasila
Hingga waktunya nanti kita bisa saling melihat runtuhnya suatu bangsa
Kau mungkin bisa tertawa, tapi kami yang khawatir dengan bangsa ini menangis bahkan menderita

Koyak-koyak..
Hancur, hancur..
Hanya karena sebiji kurma.
Runtuh-runtuh..
Mungkin tak lagi utuh saling tuduh-menuduh
Mungkin sampai tujuh generasiku atau selamanya kedamaian hanyalah sebuah tong kosong tak berisi

About Portal Berita Pers Mahasiswa SUARA USU

Check Also

Palu

Oleh: Mayang Sari Sirait Diketuk palu Tuk tuk Menghakimi lewat mata Tatap dibalik lensa   …