Home / Resensi / Kucumbu Tubuh Indahku: Memoar Tubuh Pembentuk Kehidupan

Kucumbu Tubuh Indahku: Memoar Tubuh Pembentuk Kehidupan

Sumber Istimewa

 

Judul

 

Kucumbu Tubuh Indahku
Sutradara

 

Garin Nugroho
Pemeran

 

Rianto, Raditya Evandra, Muhammad Khan, Sujiwo Tejo Endah Laras, Teuku Rifnu Wikana, Whani Darmawan, Randy Pangalila
Rilis

 

18 April 2019
Genre

 

Drama

 

Oleh: Annisa Octavi Sheren

Gagasan tentang potret sosial dibalut penyajian visual nan indah membuat Kucumbu Tubuh Indahku layak meraih apresiasi di kancah internasional meski di negerinya justru kontroversial.

Sukses menghasilkan karya yang berjaya di mancanegara seperti Sekala Niskala dan Turah, Fourcolours Films kembali melahirkan sinema indah Kucumbu Tubuh Indahku dengan Garin Nugroho duduk di kursi sutradara. Film berdurasi 107 menit ini mulai naik di bioskop Indonesia pada 18 April 2019 setelah wara-wiri di berbagai festival film luar negeri.

Kucumbu Tubuh Indahku mengisahkan kehidupan seorang penari Lengger Lanang asal Jawa Tengah bernama Juno. Lengger Lanang sendiri merupakan tari tradisional khas Jawa Tengah di mana penarinya merupakan lelaki yang berdandan menyerupai perempuan. Lakon hidup Juno diceritakan dalam babak-babak untuk menggambarkan setiap memoar yang dialami juno dalam tahap pembentukan kehidupannya.

Pertemuannya dengan pemimpin sanggar Lengger menjadi babak awal di mana ia mengetahui makna dibalik namanya, Juno yang berasal dari nama tokoh pewayangan yakni Arjuna. Tokoh satu ini kata sang guru memiliki sisi feminin sekaligus maskulin dalam dirinya. Juno terus diajak berlatih menari Lengger.

Sejak kecil Juno telah ditinggal mati sang Ibu juga ditinggal pergi sang Ayah yang entah di mana keberadaannya. Juno menjadi anak sekaligus ayah serta ibu bagi dirinya sendiri. Rasa kesepian pun melingkupi masa kecil Juno.

Juno hidup bak nomaden pasca ditinggal sang ayah. Setiap memoar kelam yang dialaminya menjadi puncak hingga ia harus berpindah. Saat kecil telah disaksikannya pembunuhan atau kejadian berdarah. Jarinya ditusuk jarum oleh bibinya sebagai hukuman atas kepolosannya yang membantu warga mengecek ayam yang hendak bertelur melalui ”lubang” si ayam. Berbagai memoar kelam beruntun mengiringi hidup Juno.  Semuanya tak jauh dari darah.

Bukan hanya kekerasan fisik, juga kekerasan mental yang didapatnya dari lingkungan bahkan dunia pendidikan sekalipun. Tubuh Juno merekamnya sebagai pengalaman traumatis.

Sumber Istimewa

”Semua trauma adalah bagian dari hidup kita,” kata sang Pakde kepada Juno remaja yang menerangkan bahwa trauma tubuh adalah bagian dari hidup manusia yang turut membentuk tindak tanduk perilaku manusia itu sendiri. Seperti pengalaman trauma politik yang dialami ayah Juno pada masa Soeharto menimbulkan guncangan psikososial yang begitu membekas dalam diri sang ayah dan menjadikannya kerap berperilaku yang tak biasa.

Garin yang juga menjadi penulis skenario film ini dalam suatu konferensi pers mengatakan tubuh manusia selalu menyimpan ingatan atas segala kejadian. Rangkaian ingatan itu lantas menjadi sejarah tubuh manusia itu sendiri.  Demikian kenyataannya ketika segala pengalaman yang menyinggahi tubuh seseorang akan turut menempah dan membentuk kepribadian seseorang seiring waktu.

Ketika menonton film ini, penonton dapat melihat sendiri bagaimana memoar yang dialami tubuh Juno pada akhirnya menjadi bagian dalam proses pembentukan kepribadian dan perilakunya. Beragam pengalaman itu pula yang membuatnya menemukan keindahan tersendiri dalam tubuhnya dan membuatnya kian mencintai dirinya sendiri meskipun hal yang tak diinginkan terus terjadi dan memunculkan trauma baru lagi.

Tubuh Juno adalah kehidupannya. Segala pengalaman traumatis yang terekam dalam tubuhnya menjelma menjadi gerakan yang ia tuangkan dalam tarian ibarat sebuah pemulihan bagi dirinya. Juno melawan segala memoar kelam melalui tarian, dengan keindahan tubuhnya.

Cerita sederhana dengan konflik yang kompleks. Kucumbu Tubuh Indahku bak jendela yang dibukakan kepada penonton untuk melihat potret sosial dalam masyarakat tanah air yang demikian kompleks dalam tatanannya. Juno dengan tubuh dan kepribadiannya harus berhadapan dengan norma yang telah mengakar dalam masyarakat. Namun pada sisi lain juga merupakan tradisi yang diamini sebagian masyarakat pula.

Belakangan film ini menuai kontroversi bagi sebagian masyarakat karena diduga mengandung unsur orientasi seksual yang dianggap sebagai penyimpangan sosial serta tabu  bagi masyarakat. Petisi online untuk menolak penayangan film ini pun tersebar di media sosial. Selain itu, penayangan Kucumbu Tubuh Indahku juga akhirnya dilarang di berbagai kota.

Penonton tentu diharapkan menilai film ini dengan open minded agar dapat menangkap pesan yang hendak disampaikan secara objektif. Keberagaman perspektif juga dibutuhkan saat menonton kisah Juno ini agar tak terjebak pada satu pandangan dan mengabaikan pandangan lain.

Terkait cerita, perlu kita memahami bahwa selalu ada yang melatarbelakangi terbentuknya kepribadian seseorang, diantaranya yakni memoar dan ingatan yang dimiliki diri seseorang. Trauma salah satunya, seperti yang dialami Wahyu Juno dalam Kucumbu Tubuh Indahku.

Bukan hanya kontroversi, Kucumbu Tubuh Indahku juga banjir penghargaan nasional dan internasional diantaranya pemenang Best Film pada Festival Des 3 Continents 2018 di Perancis, Bisato D’oro Award Vanice Independent Film Critic 2018 di Italia, dan Cultural Diversity Award under The Patronage of UNESCO pada Asia Pacific Screen Award 2018 di Australia. Film ini juga sabet gelar Film Pilihan Tempo 2018 pada ajang Festival Film Tempo 2018. Melalui film ini sang sutradara Garin Nugroho pun digelari Sutradara Pilihan Tempo 2018.

About SUARA USU

Check Also

Velvet Buzzsaw: Kontradiksi Nightcrawler

  Oleh: Surya Dua Artha Simanjuntak Judul Velvet Buzzsaw Sutradara Dan Gilroy Penulis Skenario Dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *