Home / Cerpen / Langit Sendu

Langit Sendu

Ilustrasi: Putra P Purba

 

Oleh:  Putra P. Purba

“Rupanya hujan di siang hari ini membawa berkah. Kelak hujan akan membawa namaku ke pembaringan terakhir”

Suara gaduh mulai terdengar memecah keheningan. Gedung sudah ramai sejak pagi buta. Tumpukan kertas brosur dan bendera merah putih di mana-mana. Dibawa demi menjatuhkan hegemoni rezim yang lama berkuasa. Dari sudut hingga simpang jalan terlihat sangat jelas beragam mahasiswa ikut andil.

Kulihat Mikha, sahabatku, mempersiapkan diri bersama teman sekelas. Di sudut beranda gedung bercat putih. Aku pindah sambil memperbaiki ranselku bersama mereka.

***

Malam itu, kira-kira dua minggu lalu diadakan diskusi. ‘Diskusi Perjuangan’ istilah orang saat itu. Aku hanya ikut-ikutan saja. Berkumpul bersama mahasiswa  di sebuah kontrakan remang-remang yang sering dijadikan tempat pertemuan. Remang-remang menjadi saksi kami diskusi. Diskusi pun terlihat interaktif.

“Secepatnya kita harus melakukan perlawanan,” tanganku gemetar saat mendengar perkataan itu. Ketegangan tak bisa disembunyikan. Mereka berbicara dengan nada tinggi, membentak dan saling adu argumen. 

Tidak lama setelah itu “Laksanakan!”, seorang mahasiswa pemimpin diskusi menggebrak meja reot. Aku tak bisa melihat dengan jelas siapa dia. Ia agak tersembunyi di tengah-tengah diskusi yang remang-remang itu. Tidak ada yang membantah. Semua setuju dengan hasil malam itu.

***

“Hidup rakyat!” Kata Reno, sebagai orator yang memegang megafon. Berdiri memimpin barisan. Di sela-sela lagu yang kami nyanyikan menjadi pengiring langkah menuju gedung pemegang adikara. Gedung kura-kura katanya. “Hidup!” Kata lainnya dengan serentak dan suara yang menggebu-gebu dari sudut kiri baris saya.

Lagu berulang-ulang bergaung. Sorak-sorai manusia yang dikendalikan saat itu memecahkan keheningan. Kulihat spanduk lusuh terbentang panjang berwarna merah di belakang barisan. Spanduk itu berisikan “Kami Butuh Reformasi Bukan Kekerasan”.

Spanduk berisi keresahan penuh amarah dituangkan. Kepala kami diikat dengan kain berwarna putih, bertuliskan “Hidup Mahasiswa”. Pun jas almamater, yang katanya sebagai lambang kebanggaan membuat kami tampak kompak saat berjalan.

Tampak jelas. Sekelilingku, raut wajah orang-orang serius. Keringat basahi pundak dan kening mereka. Terik panas matahari  tak lagi dihiraukan. Malah gejolak massa semakin membesar.

Di mana-mana asap mengepul. Aroma khas dari ban bekas hangus menyengat ujung hidung setiap manusia yang hadir. Beberapa dari massa menutup hidung lantaran tak tahan dengan aromanya.

***

Barisan serdadu berseragam loreng dengan baret kebanggaannya melekat kuat di kepala. Aparat barikade massa dengan tameng dan pentungan.

Aksi mulai memanas. Tiba-tiba, sebuah teriakan dengan mengeluarkan kata-kata kasar dan kotor ke arah massa. Memancing massa untuk bergerak mencarinya. Beberapa petugas ada yang meledek, mentertawakan serta mengembalikan kata-kata kotor pada mahasiswa . Massa berusaha menembus pagar hidup berseragam itu. 

Tiba-tiba, suara letusan terdengar. Letusan mulai bergelora. Membabi buta. Beberapa kali terdengar olehku. “Lari, Lari!” Seorang pria berteriak dengan keras agar aku meninggalkan tempat itu.

Beberapa orang berlari. Yang lain menganggap orang-orang yang dianggap perusuh akan terkena itu. Dipukuli dengan pentungan, ditendang dan diinjak-injak. Puluhan gas air mata juga dilemparkan untuk membubarkan massa.

Melihat ini sontak aku gamam. Terpatung.  Awalnya aku hanya ingin mengikuti saja. “Untuk meramaikan massa aja,” benakku.

***

Akhirnya aku berlari sekencang-kencangnya. Saat itu aku sembunyi di belakang pohon beringin demi menghindari kejaran mereka. Tak sengaja, terlihat dikejauhan sosok manusia yang memegang bahu tergeletak begitu saja. Aku mendekatinya. Astaga, Dia sekarat. Mungkin letusan ia terkena letusan tadi. 

Pundaknya terlihat mengeluarkan darah kental. Darahnya juga berceceran dimana-mana. Aroma badannya menyengat. Kulihat matanya. Air mataku jatuh. Ia menatapaku sambil mengerang kesakitan. Hatiku gundah. Aku menunduk. Merangkul dan memapahnya. Kakiku gemetar. “Larilah,” katanya berbisik ke telingaku. Aku semakin bimbang antara menyelamatkan diri sendiri atau orang lain. Perlahan rangkulanya mulai meregang. Ia melepas dekapanku.Ia  terjatuh. Aku berusaha membopongnya kembali tapi matanya mengisyaratkanku untuk pergi menyelamatkan diri.

Tak lama berlari, suara letupan kembali kudengar. Aku berhenti di sebuah gang sambil menarik nafas yang terengah-engah dengan tubuh bungkuk dan tangan memegang lutut. Saat itu juga seseorang menyentuh pundakku. Kulirik ke belakang seseorang berseragam loreng berdiri dengan bedilnya. Moncongnya mengarah tepat ke arahku. Sialan. Habislah aku. Ia melepas pelatuknya, petrunnya menembus tubuhku. Dapat dilihat dengan jelas di dadaku.  Dia menembakku sebanyak tiga kali. Aku terhempas ke tanah. Tersungkur.

Aku ingat saat itu gerimis turun, sedikit demi sedikit terasa terasa kulit. Perih. inilah perih terakhir yang kurasakan. Mungkin hujan di siang hari ini membawa berkah. Kelak hujan ini membawa namaku ke pembaringan terakhir. Bukan lagi sebagai mahasiswa. Tapi menjadi bagian dari “Reformasi”.

About SUARA USU

Check Also

Saat Dia Tersesat dan Mencari Jalan Pulang

  Oleh: Yael Stefany Sinaga “Jika salah maka benarkan. Tapi hasrat melambung tinggi dengan cepat.” …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *