Home / Resensi / Monster Kecil Mama

Monster Kecil Mama

Oleh Aulia Adam

Judul                : We Need to Talk About Kevin

Sutradara          : Lynne Ramsay

Naskah             : Aurelia Scheppers

Durasi               : 112 menit

Aktor                : Tilda Swinton, John C Reilly, Ezra Millers

Kisah seorang Ibu yang seumur hidupnya dimusuhi anaknya sendiri. Akting memukau Tilda Swinton dihina dengan tata rias murahan.

Eva Katchadourian (Tilda Swinton) bangun karena mendengar sesuatu di depan rumahnya. Sesuatu yang terdengar seperti suara siraman segentong air ke halaman rumah itu. Diiringi sekelabat memori mengerikan tentang hidupnya dua tahun lalu, Eva bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke halaman rumahnya untuk mengecek. Dugaannya benar. Cairan merah kental yang lengket telah menyiprati hampir seluruh bagian muka rumah mungilnya. Termasuk kaca depan mobil kuningnya yang di parkir di situ.

Eva tak tahu siapa pelakunya. Tapi ia yakin, orang itu, siapa pun dia, adalah salah satu dari mereka yang sakit hati padanya karena kejadian 2 tahun lalu.

Scene berikutnya berganti ke masa muda Eva dan Franklin (John C Reilly), suaminya. Bak dua muda-mudi lainnya saat kasmaran, mereka berdua selalu bahagia, minum minuman beralkohol dan bercinta. Tapi semua itu tak bertahan lama. Eva hamil dan melahirkan seorang putra. Awalnya mereka berdua bahagia, setidaknya Franklin begitu.

Tapi bocah yang diberi nama Kevin itu selalu menangis saat bersama Eva. Menjerit sejadi-jadinya hingga beberapa oktaf. Eva bahkan sempat membawa bayinya ke dekat jalan yang sedang diperbaiki. Hanya supaya suara tangis bayi itu terhalang suara bor yang bising. Tapi hanya berhasil sesaat, tangis Kevin jauh lebih dahsyat.

Scene kembali ke kehidupan Eva yang sekarang. Ia baru saja mendapat pekerjaan baru saat seseorang yang geram menamparnya di tepi jalan. Eva terkejut, tapi paham perasaan jijik orang tersebut terhadap dirinya. Dan semua itu karena tragedi dua tahun lalu.

Sejak kecil Kevin memang tak bersahabat dengan Eva. Bocah itu selalu sinis dan acuh pada ibunya. Tapi tak begitu pada Franklin. Kevin akan selalu bersikap manis pada ayahnya. Seperti dua karakter berbeda dalam tubuh yang sama. Tentu saja hal ini membuat Eva khawatir. Ia membawa Kevi n ke dokter dan anehnya dokter bilang tak ada yang aneh dengan Kevin. Dia normal.

Tapi tingkah Kevin tak pernah begitu, tak pernah normal. Ia memakai popok hingga usia 8 tahun, meludahi roti selainya lalu menekannya di atas meja hanya untuk membuat Eva gusar. Ketika adiknya, Celia lahir, Kevin mulai memerhatikan Eva. Ia tampak cemburu pada Celia yang merengut perhatian Eva. Dan ia mulai bersikap baik pada Eva.

Tapi semua tak bertahan lama. Kevin semakin bertingkah, ia menyedot rambut adiknya dengan vacum cleaner dan memasukan hamster peliharaan Celia ke dalam pipa saluran air. Eva juga curiga kalau penyebab kebutaan mata kiri Celia adalah Kevin. Ia sadar ada yang tidak beres dengan putranya. Tapi putranya cerdas dan tidak pernah menunjukkan perilaku anehnya kepada siapa pun kecuali dirinya.

Saat Natal, Franklin membelikan putranya satu set busur dan anak panah. Sesuatu yang kelak akan disesalinya. Karena dengan panah itu pula Kevin membantai teman-teman satu sekolahnya. Ia juga membunuh Franklin dan Celia sebelum melakukan pembunuhan massal itu. Ia menyisakan Eva untuk hidup dalam penderitaan yang ia timbulkan.

Thriller menegangkan ini berhasil memenangkan Ramsay sebagai Best Director pada BAFTA Awards. Melalui alur maju-mundur dan sinematografi apik, Ramsay menyusun ketegangan mencekam pada filmnya. Untuk lima menit pertama, alur maju-mundur itu cukup memusingkan. Apalagi film yang diangkat dari best-selling novel berjudul sama karangan Lionel Shriver ini tak punya make-up artist yang andal. Kasihan Tilda Swinton muda yang tak berhasil diterjemahkan oleh Joy Ashley Geramovich. Sepanjang rol diputar, wajah Eva muda dan tua tak ada bedanya. Tetap saja tua.

Beruntung Ramsay memakai jasa Tilda dan Ezra. Dua aktor senior dan junior ini mampu berkolaborasi dengan baik dan menciptakan hubungan mencekam ibu-anak yang entah bagaimana juga romantis. Ramsay juga pintar menyiasati kelemahan make-up artist-nya dengan persembahan sinematografi klasik oleh Seamus McGarvey.

Sebagai film terjemahan dari novel, Ramsay cukup berhasil. Ia berusaha menerjemahkan segala yang ada di buku ke dalam rol film. Seperti kecurigaan Eva terkait penyebab kebutaan Celia. Sayangnya, Ramsay lupa penonton yang tak baca novel itu. Bagi mereka pasti sulit menebak apa sebenarnya yang coba Ramsay sampaikan.

Check Also

Sekolah Biasa Saja: Kritik Praktik Pendidikan

  Oleh: Thariq Ridho Judul : Sekolah Biasa Saja Penulis : Toto Rahardjo Penerbit : Insist Press …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *