Home / Cerpen / Nietzsche dan Wanita Tua

Nietzsche dan Wanita Tua

Ilustrasi: Surya Dua Artha Simanjuntak

 

Oleh: Surya Dua Artha Simanjuntak

Kamu pernah bilang harapan hanya sebuah penjara bagimu. Namun, jika harapan adalah penjara, mungkin iman adalah kuncinya.

“Hidup adalah penderitaan,” kata Buddha. Bagiku, itulah ajaran agama yang paling relevan.

Mereka berkata bahwa aku hanya pemuda yang putus asa. Mungkin mereka benar. Nyatanya, aku hanya melihat kehidupan dalam realita. Sedangkan mereka, hidup dalam sebuah harapan. Harapan yang mereka yakini akan memberi keselamatan.

Aku hanya pemuda yang mencoba menerima penderitaan sebagai keharusan. Sekali aku pernah berharap: mengadu pada siapa saja di atas sana yang mendengar. Namun, jawaban tak kunjung aku dapatkan.

Ya, mungkin aku telah menyerah pada harapan. Kini, aku menjalani hidup hanya untuk persiapan mati.

***

Aku membuka mata setelah coba mengistirahatkan diri. Hari berbeda, namun aku tak pernah mengharapkan hal yang baru. Bukankah mereka mengatakan jalan hidup sudah ditentukan? Jika begitu, mengapa harus berharap? Tugas kita hanya menjalakan skenario yang telah ada.

Seperti biasa, hari ini aku harus bekerja. Tempatnya jauh. Mungkin ini adalah salah satu penderitaanku. Setiap pagi naik kereta api untuk sampai ke sana.

Tak seperti biasanya, hari ini kereta sedikit sesak oleh penumpang. Mungkin karena sudah dekat akhir pekan. Beruntung, aku mendapat tempat duduk di posisi favoritku: sudut lorong. Namun, aku harus berbagi tempat dengan seorang wanita tua yang sudah duduk di sana.

Aku tertegun ketika melihat wanita itu. Di usianya yang mungkin sudah 80-an, ia masih semangat membaca buku. Aku sempat merasa malu. Ketika ku perhatikan, ternyata ia membaca buku tentang agama.

Hiks, mungkin mempersiapkan diri untuk ajalnya,” gibahku dalam hati.

“Mau kerja, Cu?,” sapanya ketika menyadari kehadiranku.

Aku hanya membalas dengan senyuman. “Suka baca ya, Nek?,” tanyaku kemudian, mencoba basa-basi.

Kali ini, ia yang hanya membalas dengan senyum.

“Pertama kali naik kereta ini ya, Nek?.” Aku coba kembali bertanya. Aku memang selalu naik kereta ini, jadi sedikit banyak aku mengenali wajah para penumpang tetapnya.

“Iya, Cu,” jawabnya singkat.

Obrolan kami terus berlanjut. Dalam perbincangan, aku mengetahui ternyata si nenek baru diterima kerja di sebuah rumah makan yang berada tak jauh dari kantorku. Ia harus kembali bekerja karena cucu semata wayang yang menafkahinya meninggal dalam sebuah kecelakaan.

Hari-hari berlalu, saat ingin pergi bekerja aku dan nenek selalu bertemu di stasiun. Akhirnya, kami semakin dekat. Dalam kereta, kami selalu menghabiskan waktu dengan mengobrol. Walaupun hampir semua waktu habis karena curhatan dan keluhanku.

Entah mengapa, aku merasa nyaman mengobrol dengan nenek ini. Ia selalu menjadi pendengar yang baik, walau aku tahu terkadang perkataanku menyakiti hatinya. Aku tahu ia merupakan seorang yang sangat patuh dengan agama. Namun, aku tak dapat menahan diri. Aku sering merendahkan apa yang ia yakini. Anehnya, nenek hanya tersenyum mendengarkan.

“Jangan coba memberitahuku bahwa kita diberkati,” hardikku ketika nenek coba menasehati.

“Semua Tuhan telah meninggalkan kita, Nek.”

“Surga? Nenek hanya berharap padanya. Bagaimana jika tempat itu tak pernah ada? Masihkah nenek memuja-Nya?”

“Mungkin cuma api nereka yang bisa menyelamatkanku dari penderitaan hidup ini, Nek. Kita dilahirkan hanya untuk dibakar.”

“Aku kira, harapan hanya sebuah penjara bagi manusia.”

Ya, hampir setiap hari aku mencaci ketuhanannya. Namun, setiap hari juga aku menerima senyuman dari bibirnya. Entah apa yang ada dalam hatinya. Aku tak bisa menebak.

Suatu hari, ia menghadiahi buku kepadaku. Entah apa maksudnya. Setelahku terima, ternyata ini buku agama yang ia baca saat pertama kali kami bertemu.

Sebagai balasan, esoknya aku juga memberikan buku. Buku dari Filsuf Jerman Friedrich Nietzsche. Buku yang mempertanyakan keberadaan Tuhan. Entah mengapa, aku ingin nenek membaca buku ini.

***

Seminggu berlalu setelah kejadian tukar buku. Aku tak melihat nenek di stasiun. Biasanya, ia bahkan akan menungguku sebelum masuk ke kereta.

“Yasudahlah, mungkin ia sedang tak enak badan,” pikirku dalam hati.

Namun, tiga hari selanjutnya, nenek tetap tak muncul. Aku mulai merasa janggal. Di dalam kereta, entah mengapa aku terus memikirkan nenek. Lamunanku buyar ketika seorang petugas kereta meminta karcis.

“Pak, beberapa hari ini liat nenek yang biasa duduk samaku, nggak?,” tanyaku.

“Oh nenek itu. Memang masnya belum dengar kabar?”

“Kabar apa, Pak?”

“Lima hari yang lalu nenek itu dijambret. Di stasiun tempat masnya naik tadi, waktu beliau pulang kerja malam-malam.”

“Katanya sih, beliau melawan saat si jambret coba ngambil tasnya. Jadinya, si jambret nusuk perut nenek itu. Orang sekitar yang dengar keributan langsung datang. Si jambret langsung kabur dan gak berhasil ngambil tas nenek itu. Sayangnya, nyawa si nenek nggak sempat tertolong,”

Aku tertegun mendengarnya. Suasana sempat hening sejenak.

Serem ya mas. Memangnya, masnya kenal si nenek?” lanjut si petugas memecah keheningan.

“Cuma teman ngobrol aja, Pak.”

“Anehnya mas, saat diperiksa, isi tas yang dipertahanin nenek itu ternyata cuma buku doang.”

“Hah, buku? Warna apa, Pak?”

“Warna hitam kalau nggak salah. Sampulnya foto orang berkumis tebal.”

Jantungku seperti berhenti sepersekian detik. Aku kaget bukan main. Tidak salah lagi, itu buku yang kuberikan minggu kemarin.

Makasih ya infonya, Pak,” ujarku kepada si petugas.

Seketika, aku teringat buku yang diberikan nenek kepadaku. Buku tersebut tak pernah kusentuh sekalipun. Dari hari pemberian, buku itu setia berada di tasku.

Lantas, aku bergegas merogoh tas. Ya, bukunya masih ada. Aku coba buka lembaran pertama. Tulisan tangan nenek langsung menyambut.

Kamu itu mirip sekali sama cucu nenek yang pernah nenek ceritain. Apalagi sifatmu yang keras kepala itu, selalu mengingatkan nenek kepadanya.

Nenek sudah enggak punya siapa-siapa lagi tapi kamu bersedia jadi teman ngobrol nenek. Nenek sangat berterima kasih atas itu.

Kamu enggak perlu khawatir dengan perasaan nenek. Kamu bebas berbicara apapun. Dengar suara kamu aja nenek sudah senang.

Nenek cuma bisa kasih buku ini. Nenek tahu kamu pasti tidak tertarik dengan buku ini. Namun, di buku ini kamu mungkin akan menemukan jawaban dari semua pertanyaanmu.

Kamu pernah bilang harapan hanya sebuah penjara bagimu. Namun, jika harapan adalah penjara, mungkin iman adalah kuncinya.

Cu, kamu selama ini mungkin hanya berharap, namun tak pernah mengimaninya.

Suara dan senyum nenek seperti membayangiku. Entah dari kapan, air mengalir dari mataku.

About SUARA USU

Check Also

Purnama Terakhir

  Oleh: Widiya Hastuti “Lauful Mahfudz, kitab kisah hidup manusia. Seperti novel dengan alur ceritanya. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *