Home / Berita Kampus / Pegiat KSI: Sastrawan Harus Dapat Hadir di Tengah Masyarakat

Pegiat KSI: Sastrawan Harus Dapat Hadir di Tengah Masyarakat

Juhendri Chaniago (kanan), salah satu pemateri dalam acara Kongko Sastra Perlawanan mengatakan sastrawan harus dapat hadir dalam masyarakat, Jumat (2/11). | Elsanti Amirah Adhana*

 

Oleh : Randa Hasnan Habib*

USU, suarausu.co – Pegiat Literasi Koalisi Seni Indonesia (KSI) cabang Medan Juhendri Chaniago mengatakan sastrawan harus dapat hadir di tengah masyarakat. Hal tersebut ia sampaikan saat menjadi pemateri dalam acara Kongko Sastra Perlawanan yang diselenggarakan oleh SUARA USU bekerja sama dengan Teater O dan Etnomusikologi di depan Fakultas Ilmu Budaya, Jum’at (2/11).

Dalam materinya, Juhendri menjelaskan bahwa sastra perlawanan merupakan bentuk karya sastra. Dimana sastrawan memperkenalkan karya sastranya di tengah masyarakat bukan hanya di media cetak maupun media sosial. Dapat berupa pertunjukan maupun gerakan. “Sastrawan yang jauh dari masyarakat tentu sastra yang tidak realistis,” ujarnya.

Juhendri mengatakan sastra perlawanan muncul karena kepekaan sastrawan dalam melihat realitas serta persoalan di sekitarnya. Sastra perlawanan dapat berupa gurindam, cerpen, puisi maupun sastra kontemporer atau perpaduan daripada itu. Pesan yang ingin disampaikan harus berupa bentuk ekspresi sastrawan tersebut mengenai realita serta persoalan yang terjadi di negeri ini baik kepada pemerintah maupun masyarakat.

Peran sastrawan dalam memperjuangkan kebenaran seharusnya menyampaikan pesan perlawanan dari masyarakat yang tak tersampaikan. “Masyarakat terkadang belum terdidik untuk menerima sastra. Minat baca masyarakat juga masih minim terhadap karya sastra,” ujarnya.

Juhendri mengatakan selama masalah kemanusiaan masih tidak dapat terselesaikan eksistensi sastra akan tetap ada. Ia berharap sastra perlawanan dengan kreatifitas penulis  dapat memunculkan hal-hal baru di dunia sastra.

Menanggapi hal tersebut Pegiat Literasi Teddy Wahyudi Pasaribu mengatakan sastra perlawanan adalah bentuk karya sastra yang kontennya memberikan kesadaran akan realita, dikemas dengan estetika tulisan dan bahasa dengan tetap mengandung unsur pendidikan serta edukasi. “Sastra perlawanan  merupakan titik dorong bahwa ada keadaan timpang atas keadilan, kesetaraan serta akses,” tutupnya.

 

*Penulis dan Fotografer adalah anggota magang SUARA USU

About SUARA USU

Check Also

Rektor Pecat Pengurus SUARA USU 2019

  Oleh: Selistio Oklando Mikha Sitorus USU, suarausu.co — Rektor USU Prof Runtung Sitepu berhentikan semua …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *