Home / Opini / Pendidikan Indonesia Jauh dari Cita-cita

Pendidikan Indonesia Jauh dari Cita-cita

Oleh: M Januar

Setiap tanggal 2 Mei diperingati Hari Pendidikan Nasional, institusi pendidikan kerap melakukan upacara bendera untuk peringati hari ini. Pemerintah menetapkan hari pendidikan pada tanggal ini karena 123 tahun yang lalu lahir seorang bocah keraton yang akan mengubah wajah Indonesia. Dia adalah Raden Mas Suwardi Suryaningrat, kita mengenalnya Ki Hajar Dewantara (KHD).
Berasal dari keluarga keraton membuat KHD dapat menempuh pendidikan dasarnya di sekolah Belanda. Ia juga sempat mengenyam pendidikan kedokteran di STOVIA namun tidak sampai tamat. Lalu, ia menjadi seorang wartawan dan kritikus tajam pemerintah Hindia Belanda.

Lewat tulisannya ia mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah, artikel terkenalnya Seandainya Aku Seorang Belanda (Als ik eens Nederlander was)  yang dimuat dalam surat kabar De Expres yang dipimpin Douwes Dekker. Artikel ini yang membuat ia diasingkan ke Belanda.
Dalam pengasingannya, ia melanjutkan pendidikan tingginya dan bergabung dengan organisasi pelajar Indonesia, Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia). Keaktifannya dalam berorganisasi membuat pikiran-pikirannya semakin tajam. Diskusi dan buku-buku ia jadikan rutinitas harinya. Ia juga sangat terpengaruh pada pemikiran Montessori dan Froebel, seorang tokoh pendidikan. Froebel dan Montessori mengonsep bahwa pendidikan bukanlah hanya sekadar kemampuan menghitung atau membaca.
Inilah yang membuat KHD memiliki cita-cita untuk memajukan pendidikan di Indonesia, tanah airnya. Selepas dari pengasingan, ia menjadi seorang pengajar. KHD setelah mengajar ia membentuk sebuah lembaga pendidikan yaitu, Taman Siswa. Dalam konsep didiknya, ia tanamkan bahwa pendidikan bukanlah sebuah upaya memajukan budi pekerti, jasmani dan membentuk manusia yang merdeka sesuai jati dirinya dan selaras dengan masyarakat.
Semboyannya yang terkenalnya adalah tut wuri handayani. Ini yang menjadi jargon pendidikan di Indonesia. Namun, jargon tersebut tidak sesuai dengan penerapan dalam pendidikan di Indonesia saat ini. Sekolah atau perguruan tinggi yang seharusnya menjadi tempat memanusiakan manusia tak ubahnya seperti pabrik yang menciptakan robot-robot.
Sekolah dari pendidikan dasar sampai tinggi hanya menuntut hasil peserta didik secara kognitif. Sehingga anak didik hanya dituntut memiliki hasil baik di atas hitam dan putih. Dengan mengabaikan kemampuan sosialnya dengan masyarakat atau individualis. Jelas ini sudah lari dari konsep awal pendidikan Indonesia yang menyeimbangkan segala kemampuan manusia yaitu cipta, rasa dan karsa.

“Guru bukan Dewa. Murid bukan Kerbau”

Soe Hok Gie, seorang yang terkenal karena idealismenya mengatakan seperti ini, “guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa, murid bukan kerbau.” Kutipan ini masih berlaku sampai sekarang di dunia pendidikan Indonesia.
Saya masih ingat ketika duduk di bangku SMP. Ketika itu seorang teman saya yang lupa untuk membawa buku tulis dihukum habis-habisan di depan kelas. Teman saya disuruh berlutut dan menghadap ke dinding kelas. Karena kesal, guru tersebut menendang badan teman saya sehingga kepalanya membentur ke dinding.
Kondisi ini juga terjadi di dunia pendidikan tinggi. Ketika seorang mahasiswa menyanggah penjelasan dosennya karena sudah ada hasil penelitian yang terbaru dan pendapat dosen tersebut sudah tidak bisa digunakan lagi. Dosen tersebut tidak bisa menerima mungkin karena harus menjaga harga dirinya sebagai orang yang serba tahu. Alhasil, perdebatan mahasiswa dengan dosen tersebut berakhir dengan nilai D untuk mahasiswanya.
Inilah potret kecil dari dunia pendidikan di Indonesia. Guru menempatkan posisinya sebagai orang yang paling serba tahu di dunia ini. Dan menganggap anak didiknya hanya seperti gelas kosong yang tidak punya isi apapun.
Kondisi ini yang membuat manusia menjadi terkekang dan tidak dapat bebas untuk berpikir. Secara tak langsung membuat anak didik hanya menjadi kambing congek. Sehingga tidak berani untuk mengeluarkan pendapatnya secara bebas.
Selain itu kini kondisi pendidikan di Indonesia bersifat diskriminatif. Pendidikan dijadikan sebuah komoditas. Orang yang punya uang, dapat mengenyam pendidikan yang berkualitas. Sedangkan para kaum miskin hanya cukup mendapatkan pendidikan seadanya, asal ada uang ya sekolah.
Sehingga membuat masyarakat menjadi malas untuk berpikir dan hanya fokus mencari cara agar dapat nilai bagus semata agar mudah dapat kerja. Ini merupakan salah satu sebab membuat para peserta didik berpikir pragmatis dan individualis.

Mulai dari Keluarga
Anie Baswedan seorang cendekiawan mengatakan, “jika didikan anak di rumah baik, maka anak itu juga akan baik di sekolahnya.”
Pendidikan yang terbaik adalah keluarga. Kedinamisan keluarga sebagai tempat tumbuh  memengaruhi pola pikir seorang anak. Sifat orang tua yang otoriter tanpa membebaskan anaknya untuk melakukan pilihan-pilihan hidup membuat seorang anak terkekang sehingga tidak bisa mengekspresikan dirinya.
Orang tua tidak bisa memaksakan keinginannya terhadap si anak agar menjadi seperti yang mereka inginkan. Sering dijumpai orang tua lebih senang melihat nilai matematika anaknya tinggi. Sebaliknya  orang tua akan memarahi anaknya jika nilai menggambarnya lebih tinggi daripada matematika.
Kondisi ini juga terjadi di institusi-institusi pendidikan dari dasar sampai tinggi. Sama halnya dengan orang tua, seorang guru juga menganggap muridnya hanyalah kerbau dungu. Yang hanya datang lalu duduk menerima pembelajaran dari guru. Murid tidak dilibatkan aktif dalam kegiatan belajar sehingga komunikasi yang terjadi hanya satu arah.
Terakhir yang pasti adalah peran pemerintah. Sampai saat ini peran pemerintah dalam memajukan pendidikan di Indonesia masih mandul. Jangan bayangkan pendidikan kita bisa sejajar dengan negara maju. Lihat saja di daerah-daerah pedalaman, setelah hampir 67 tahun Indonesia merdeka banyak warganya masih belum mendapatkan pendidikan formal karena tidak adanya sekolah di sana. Mental para aparatur pendidikan dari guru atau dosen hingga kementrian juga harus diperbaiki. Kutipan-kutipan liar sering kita jumpai di media massa.
Inilah yang membuat pendidikan di Indoseia bermasalah dari hulu sampai hilir. Sehingga apa yang dicita-citakan dari awal tidak pernah terwujud. Tampaknya negara ini belum sadar akan pentingnya pendidikan sebagai tempat memanusiakan manusia dan bukan pabrik!

Penulis adalah Mahasiswa FIB 2008 dan Pemimpin Redaksi SUARA USU 2012

About Portal Berita Pers Mahasiswa SUARA USU

Check Also

Budaya ‘Sesajen’ Sidang Meja Hijau

Oleh: Widiya Hastuti “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan,”- …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *