Home / Cerpen / Purnama Terakhir

Purnama Terakhir

Ilustrasi: Surya Dua Artha Simanjuntak

 

Oleh: Widiya Hastuti

“Lauful Mahfudz, kitab kisah hidup manusia. Seperti novel dengan alur ceritanya. Tiap tokoh telah ditentukan kisahnya oleh penulis. Mereka hanya tokoh yang dibentuk oleh huruf. Tak dapat melakukan apa-apa.”

Adil itu apa? Bahagia itu bagaimana? Bagai angin yang bergeming? Tak terasa. Aku seperti terjebak dalam labirin kehidupan tak berkesudahan. Apa ini asa? Bagaimana orang memaknai makna? Bukankah bibit anggur tidak akan membuahkan kedondong. Tapi tidak dengan hidup. Bagai sobekan gambar tak beraturan yang sampai kapanpun tidak akan pernah menjadi mosaik lengkap.

Kernyut-kernyut dahi menatap purnama yang menggantung di antara ribuan kilau yang terhampar di gelap malam. Dan orang berkata purnama itu tidak sempurna, toh ia juga bolong. Tapi mungkin aku percaya. Seperti aku percaya pada kata ibu anak baik akan bahagia hidupnya.  Dan desau pohon kelapa mengelus telinga. Memanjakanya dengan mesra mengayun-ayun tubuh mengajak tidur. Entah untuk sesaat atau untuk selamanya.

Andai aku tahu kehidupan sesudah hembusan karbondioksida terakhir keluar dari hidung. Yang katanya jika aku baik akan memasuki tempat indah penuh buah, yang di dalamnya mengalir sungai susu. Huhh, bagaimana sesuatu yang tersimpan dalam tempurung yang keras di atas leherku menjelaskanya. Bintang yang indahpun panas ketika didekati.

Aku terlalu banyak mendengar dongeng pengantar tidur, hikayat putri Cina yang baik hati, Bawang Merah dan Bawang Putih, Klenting Kuning. Aku terlalu terlena dengan harapan suatu hari nanti yang entah kapan datangnya. Sekarang toh aku di sini. Dibawah purnama yang menggagahi aku dengan garangnya.

Sekian ratus bulan purnama yang lalu aku mengikuti jejak yang tak lengkap. Dengan perkataan jadilah anak baik maka hidupmu akan baik. Menempuh pendidikan menjadi anak baik, menjadi istri yang baik, menjadi ibu yang baik, menjadi nenek yang baik, begitu jalur kereta yang kulalui.

Tapi sepertinya tidak selalu yang baik menjadi hasil yang baik. Aku lalui segalanya dengan baik. Anak yang baik, murid baik, menjadi istri baik pula. Ibu? Entah aku ibu yang baik atau tidak. Tapi aku berakhir di sini, di tempat setiap ibu tak inginkan. Tidak ada kebaikan kawan. Yang ada hanya takdirmu yang tertullis di Lauhul Madfudz.

Lulus sarjana, bekerja, menikah. Begitu jalan hidupku. Aku memiliki dua putri dan seorang putra. Ketika aku melahirkanya seribu doa kupanjatkan agar mereka tumbuh dengan baik. Tak terperi aku sayangi mereka. Ayahnya memberi nama, yang besar perempuan cantik dinamai Ayu. Agar segala yang ia miliki menjadi baik dan bagus. Yang kedua adalah putra yang kami banggakan, ayahnya memberi nama Novian karena ia lahir bulan November. Terakhir gadis jelita diberi nama Salwatun Khasanah. Kakeknya yang memberi nama, agar ia terima rezeki yang melimpah dari langit, seperti kisah Manna dan Salwa.

Mereka berkembang hingga memasuki usia remaja. Ayu memilih masuk perguruan tinggi kesehatan. Ia anak yang paling dekat denganku. Kami menghabiskan banyak waktu bersama. Dia pandai memasak dan berdandan. Aku kenal semua pacarnya, ia cukup terbuka. Tapi tidak kali itu, ia tidak pulang hari itu tanpa memberi kabar. Aku dan ayahnya mencari kesana kemari. Menghubungi sanak saudara, teman, hingga dosen pembimbingnya. Ia tak pulang. Hingga dua hari kemudian seseorang datang membawa kabar. Ia telah menikah karena hamil.

Saat kecil aku selalu mengaji. Aku mengaji pada surau kecil yang terbuat dari papan dengan dinding setengah tubuh. Setengah keatasnya terbuka. Saat kami mengaji malam hari selalu saja dingin, angin malam berhembus melalui celah antara papan. Tengku mengajiku sudah tua. Namun ia selalu gigih mengajar meski ia harus masuk angin karena angin malam. Ia bercerita, tuhan selalu menguji umatnya. Apakah mereka setia jika hal buruk menimpa mereka?

Aku yakin, saat itu tuhan tengah mengujiku melalui Ayu. Aku mendatangi rumahnya. Ia menangis dan memohon ampun padaku. Ia anakku, selalu kuiring ia dengan doa dari tiap hembusan nafasku. Tak ada amarah dariku. Tak perlu pengampunan. Tidak dengan ayahnya. Ia murka. Ia menganggap Ayu bukan lagi anaknya. “Jangan pernah ia menginjakkan kaki pada rumah ini,” ucapnya ketika berita buruk itu datang. Tak lama Ayu pindah keluar pulau. Kami tidak pernah berhubungan lagi.

Saat selanjutnya aku lalui dengan susah payah. Gunjingan tak terhentikan dari kanan kiri. Hingga anak ke duaku memasuki perguruan tinggi. Ia memilh Ilmu Politik pada universitas negeri. Ia cukup membanggakanku. Prestasinya bagus. Ia melanglang buana ke tiap pelosok negeri entah dengan uang pemerintah atau tabungannya. Tiap kali ia pulang ia selalu membawa buku besar untuk di baca. Entah novel atau buku yang aku tidak mengerti isinya.

Satu hari datang kabar dari kepolisian tempat ia kuliah. Ia diringkus karena aksi demonstrasi dan mengembangkan paham terlarang di kampusnya. Komunis. Aku yakin anakku pandai tapi tidak pernah membayangkan seperti ini. Mengapa ia harus mengembangkan paham yang dilarang? Mengapa ia berniat menjatuhkan pemerintah. Ayahnya melarangku menemuinya. Hanya telepon tanpa tangisan yang ku terima darinya. “Aku tidak salah Ibu, pemerintah ini sangat jahat. Aku tidak suka kejahatan,” ujarnya.

Aku tidak peduli kejahatan, pemerintah, keadilan, atau apapun. Yang aku peduli anakku jangan dipenjara. Kenapa ia harus menjadi baik? Tidak semua yang baik memberikan buah baik nak.

Tengkuku, ketika malam purnama tiba, bercerita. Tidak akan tuhan memberikan cobaan yang berat bagi umatnya. Tidak dibatas kemampuannya. Umat yang diberi cobaan berturut-turut ia di kasihi tuhan. Suara guruku ditiup-tiup angin malam diselingi jangkrik seolah meng-iya-kan. Di bawah purnama yang besar di atas surau tak berdinding penuh,  bagai kisah penenang hati.

Mungkin tuhan juga tengah mengujiku karena ia sayang padaku. Kehidupan di rumah tidak lagi menyenangkan. Aku lebih senang di dalam rumah daripada keluar ditanyai ini itu oleh orang yang ingin tahu. Suamiku mulai sakit, ia tentu lebih terpukul. Seiring waktu Salwa memasuki perguruan tinggi. Ia memilih mondok di pesantren. Aku tidak berani berharap apa-apa. Aku tidak percaya harapan lagi. Biar semua berlalu apa adanya. Mungkin Tuhan ingin mengujiku lagi, atau menegurku, atau menyiksaku. Aku tidak peduli. Biar semua berlalu seperti yang tertulis di Lauhul Mahfudz.

Tidak berharap, tidak berdoa, tidak peduli menguntungkanku. Aku tidak guncang ketika menerima telepom bahwa anakku melakukan bom bunuh diri tepat di hari pemakaman suamiku. Aku tidak menangis lagi. Semua telah diatur. Sesungguhnya aku tidak perlu bersikap baik demi mendapatkan imbalan baik. Apapun yang aku lakukan akan tetap menghasilkan apa yang harus aku dapatkan. Aku tidak akan mendapatkan sesuatu karena melakukaan sesuatu lainya. Semua telah diatur. Ketika suara pertama terpekik ke telingaku maka kisahku telah dimulai. Kisah anak baik hanya dongeng pengantar tidur. Aku tidak punya batasan menerima cobaan. Jika seluruh dunia diletakan pada pundakkupun, aku akan sanggup.

“Bu, mari tidur. Sudah malam. Tidak bagus angin luar,” ujar penjaga panti jompo. Ya, sepertinya aku harus tidur. Tidak bagus aku terus memandangi purnama. Tetap sama saja bentuknya seperti ratusan purnama yang telah kutatap. Aku harus berhenti menghitungi derik jangkrik. Aku harus tidur. Aku bangkit dengan perlahan. Bertopang pada tongkatku. Masuk ke dalam kamar kecil seukuran 2×3 meter. Si penjaga memberiku air hangat kemudian mengucapkan selamat malam dan pergi. Aku duduk memandang kaca mengelurkan 6 butir obat yang kudapat dari kamar sebelahku ketika polisi mengevakuasi tubuhnya. Sepertinya tiga butir cukup untuk mengakhiri purnama ini. Tapi aku tidak mau orang lain memungut sisanya. Aku tidak harus menjadi baik untuk mendapatkan hal baik. Tuhan sudah menetapkan segalanya untukku. Aku hanya harus tidur.

About SUARA USU

Check Also

Perempuan di Tanah Hierarki

  Oleh: Putra P. Purba “Aku berada di tanah cendala dalam tatanan mahajana. Mampu menatap, namun …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *