Home / Cerpen / Saat Dia Tersesat dan Mencari Jalan Pulang

Saat Dia Tersesat dan Mencari Jalan Pulang

Ilustrasi: Surya Dua Artha Simanjuntak

 

Oleh: Yael Stefany Sinaga

“Jika salah maka benarkan. Tapi hasrat melambung tinggi dengan cepat.

Deras keringat membasahi ujung kepala hingga dagu. Hampir dua tahun aku mengenalnya. Entah setan atau kerasukan roh yang membuat kami sampai pada adegan klimaks ini. Sungguh benar kata orang, jika dua individu lupa memakai logika ketika ajakan itu mencapai puncaknya. Kami benar-benar menikmatinya.

“Pelan-pelan. Sungguh ini pengalaman pertamaku.”

Sedikit gugup. Dia menatapku makin dalam. Aku memperbaiki posisi tidurku. Telah luruh semua pelindung badan. Kini kami bak adam dan hawa di Taman Eden. Tak malu kami saling melihat. Dia mulai memelukku. Kurasakan nafas dari mulutnya. Bau kuah bakso pinggir jalan yang kami makan.

Kini dia mulai menimpa bibir ke bibir. Lumatan yang basah serta permainan adu mulut pun terasa menjadi satu. Hangat. Semua menjadi samar seketika. Ketika kau memaksa kepunyaanmu mencekcoki dinding pertahanan. Sekali lagi semuanya suram. Sedikit merintih. Tak kuasa menahan sakit yang nikmat itu.

“Tidak apa-apa. Bertahanlah. Aku hanya ingin kau merasa puas.”

Hampir 2 jam kita beradu. Sungguh menjadi malam yang tak terlupakan. Malam yang dapat melupakan status kami masing-masing. Melupakan bahwa kau sudah terikat dengan wanita yang lain.

Dari Soe–Tan Malaka–Minke.

Dimulai dari buku perjuangan mahasiswa tahun 1965. Ketika itu memutuskan untuk menjadi salah satu bagian dari kontrol sosial. Konsekuensinya adalah aku harus membiasakan diri untuk akrab dengan barang-barang yang berisikan dogma dan teori.

Aku bertemu denganmu. Dingin dan misterius. Tapi melihat kau mencoba mengartikan setiap kalimat-kalimat menjadi dasar filsafat sederhana membuatku terpukau. Alih-alih bisa mengenalmu, Soe Hoek Gie menjadi landasannya.

Sedikit berhasil. Walau kau tetap bungkam. Setidaknya kau mengajakku untuk membangunkan Soe melalui pertemuan di satu meja ditemani secangkir V60. Pelajaran pertama yang kudapat bahwa perjuangan harus tetap ada. Bahwa sejarah dunia adalah sejarah pemerasan.

“Hidup adalah penderitaan. Kira-kira ajaran buddha seperti itu. Dan itu merupakan keharusan yang harus kita terima. Dan kita tidak bisa bebas daripadanya,” ucapmu mengakhiri ilmu pertamaku.

Pekan berikutnya berpikir keras mencari landasan berikutnya. Komunisme. Sering sekali digaungkan rekan seperjuangan. Untuk kedua kalinya, Tan Malaka menjadi landasannya. Sama. Untuk menghilangkan hasrat penasaran akan dirimu. Pelajaran kedua yang kudapat bahwa pendidikan bertujuan mempertajam kecerdasan. Memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan.

“Bagaimana dengan idealisme?” kutanya agar aku tetap bisa memperhatikanmu.

“Idealisme adalah harta terakhir yang dimiliki oleh seorang pemuda, adinda.”

“Tapi aku mulai jatuh cinta terhadap sosok Minke.”

“Itu bagus. Karena baginya bumi manusia dan persoalan yang menjadi dunianya.”

Kali ini selesai. Kulihat hubungan kita menjadi lebih baik. Semoga alam raya merestui.

Dari Wanita–APTX 4869–Budaya Manusia.

Kini tak sungkan lagi. Hari, minggu, bulan bahkan tahun pun terlewati sudah. Tak harus aku yang agresif, kau pun kini menunjukkan sisi sebenarnya. Tidak sia-sia perjuangan peluh kemarin itu. Kini kita sedekat nadi. Lara tak henti menghujam. Walau setiap kali aku melihatmu berhubungan dengan wanita yang kau cintai selama ini. Tak merubah keputusanku.

“Aku ingin merubah diriku. Atau setidaknya merubah nasibku.”

“Aku punya solusinya. Minumlah apotoxin 4869. Maka kau akan berubah.

Kau tertawa. Bahkan tak henti beberapa menit.

“Ternyata manga Jepang membuat otakmu menjadi penuh fiksi.”

Kita tertawa. Aku lupa bahwa kau sudah ada yang memiliki. Tapi tak peduli. Lara ini lebih besar kekuatannya daripada statusmu. Kukira jalur kuning belum melengkung. Lagipula sama-sama nyaman walau tak terujar dari mulut. Kami sangat mencintai keberagaman. Menjunjung tinggi peradaban manusia dan tetuah yang berlaku. Menyenangkan.

Dari Partai–Partisan–Ucapan Rindu.

Tahun ketiga. Sibuk dengan urusan masing-masing. Bahkan tak bisa kubohongi lagi bahwa aku sangat merindukannya. Memastikan bahwa ini adalah perasaan yang benar diatas keadaan yang salah. Kolegaku menasehati  dengan beribu ungkapan. Tidak baik menjadi feminis yang radikal. Tak baik membangun dogma pemberontak. Bahkan yang paling mengenai hati, tak boleh membangun hubungan diantara orang yang sudah berhubungan.

“Hari ini aku harus banting setir dari kehidupanku yang sebenarnya,” ucapmu di malam pertemuan itu.

“Asal kau tetap menjaga otakmu. Jangan khianati semuanya,” lirihku semakin menjadi-jadi.

“Percayalah padaku. Suatu saat aku membutuhkan kekecewaanmu.”

“Pergilah. Selesaikan urusanmu.”

Kuambil baju yang jatuh di lantai. Kupakai hingga semuanya lengkap. Kau pun mengikuti. Kini kami bukan lagi adam dan hawa di taman firdaus. Kami beranjak. Ruangan itu terasa hangat. Aku menuntunnya ke arah pintu keluar.

“Aku pasti merindukanmu. Tunggulah aku dan doakan aku agar bisa menemukan jalan pulang.”

Ciuman itu sekali lagi mendarat di wajahku. Kini bukan dibibir. Melainkan di kening lebarku. Mengartikan sebuah ketulusan hati yang menyertainya. Kini dirinya benar-benar menghilang dan pergi.

About SUARA USU

Check Also

Ketika Semua Menolak Kehadiran Diriku Di Dekatnya

  Oleh : Yael Stefani Sinaga Harus bagaimana aku baru disebut manusia? Melentang, merayap, atau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *