Home / RAGAM / Sebaris Wahyu di Atas Batik

Sebaris Wahyu di Atas Batik

Pembatik di Batik Mahkota Laweyan. | Sumber istimewa

 

Oleh: Widiya Hastuti

Kamu kerap lihat batik kawin dengan fesyen, kali ini mari sambangi batik kawin dengan perkataan Tuhan.

Siapa tidak kenal Solo alias Surakarta? Kota kasunanan dengan batiknya yang terkenal. Tak salah kota ini memiliki gelar Kota Batik. Perjalanan batik solo mengalami pasang surut. Terlebih setelah munculnya batik printing yang memporak porandakan pemasaran batik tulis. Namun tidak kehilangan pasar, batik tulis kembali memiliki gaung hingga ke mancanegara.

Batik Mahkota Laweyan merupakan salah satu galeri, toko, rumah workshop, sekaligus tempat produksi batik tulis dan batik cap di Solo.  Rumah batik ini telah berdiri sejak tahun 1956 dengan nama Batik Puspowidjoto. Namun mengalami penurunan pada tahun 80-an hingga tutup. Pada tahun 2005 rumah batik ini kembali dibuka oleh anak pendiri Batik Puspowidjoto, Alpha Fabela Priyatmono.

Libur semester lalu saya menyempatkan diri melihat Batik Mahkota Laweyan. Rumah luas dipenuhi bunga menjadi ciri khas. Lukisan hewan dan bunga menggantung di ruangan tanpa dinding. Seorang perempuan pembatik tengah duduk memegang canting ketika saya datang.

Saya bertemu Muhammad Rizqi Darmawan, anak pemilik Batik Mahkota Laweyan. Ia bercerita bagaimana galeri batik tersebut menjadi salah satu kebanggaan batik solo saat ini. “Kami mengajarkan Alquran lewat batik,” ujarnya ketika mengantarkan saya melihat-lihat koleksi batik Mahkota Laweyan. Mungkin menjadi hal umum jika hanya membatik berbagai motif. Mahkota Laweyan punya keunikan sendiri. Batik-batiknya berisi ayat suci Alquran. Karya tersebut merupakan satu-satunya karya batik tulis Alquran di Indonesia.

Saya terkagum menyaksikan kain berukuran 3×5 Meter terbentang di tengah ruangan galeri Batik Mahkota Laweyan. Kain berbingkai batik itu berisi ayat suci umat Muslim. Al Fatihah. Rizqi mengatakan Al Fatihah merupakan awal penggarapan Alquran menggunakan batik di Mahkota Laweyan.

Batik Alquran tersebut telah digarap sejak 2016, sedangkan peresmian batik Alquran dilakukan pada 2017 saat Festival Laweyan, sebuah festival batik. Rizqi mengatakan batik Alquran dibuat untuk menarik perhatian dan minat orang pada Alquran. Juga sebagai media belajar Alquran setidaknya bagi pembatik.

“Pembatiknya ini tidak bisa baca Alquran loh, namanya Sarwono” ungkap Rizqi. Melalui batik Pak Sarwono dapat mengenal huruf-huruf di Alquran. Meski ia sempat ragu namun akhirnya menerima tawaran membatik Alquran.

Saat ini pengerjaan batik Alquran telah sampai pada juz 25. Tiap pembukaan juz dipajang pada galeri yang sama dengan batik Alfatihah. Sebanyak 25 lembar kain batik berdiameter 90 x 115 Centimeter mengelilingi dinding ruangan. “Isi juznya kita simpan, belum ada galeri buat pajang semua,” jelas Rizqi.  

Uniknya bingkai batik Alquran ini menggambarkan kebudayaan Indonesia. “Tiap juz beda-beda desain batiknya. Ada yang budaya jawa, ada papua,”  jelas Rizqi. Rencananya pengerjaan batik Alquran terus dilanjutkan hingga memenuhi 30 juz Alquran.

Ketika saya bertanya harga perlembar batik Alquran itu dengan tegas Rizqi menjawab batik tersebut tidak dijual. Mahkota Laweyan membuat karya tersebut hanya sebagai koleksi galerinya.

Gampang-Gampang Susah Membatik

Pak Sarwono, Pembatik Mahkota Laweyan tengah mempersiapkan diri membatik ketika saya menyambanginya di Batik Mahkota Laweyan. Kain putih dengan pola berukuran sekitar satu meter membentang di depannya. Ia tersenyum menyapa ketika saya memperkenalkan diri.

Sambil menggoreskan canting berisi lilin panas Pak Sarwono bercerita. Baginya membatik Alquran sedikit lebih sulit dari batik lainya. “Ini sudah ada teksnya jadi harus teliti, beda ketebalan juga,” ujarnya. Pak Sarwono tidak mengenal huruf hijaiyah. Namun setelah diskusi dengan pemilik Batik Mahkota Laweyan ia memutuskan mengambil pekerjaan  tersebut.

Untuk keakuratan, tiap selesai membubuhkan malam pada kain, ayat Alquran dicek ulang oleh orang lain. Jika terdapat kesalahan ia harus menghapus malam dan memperbaiki kesalahan.

Diselingi lagu campursari dari tape recorder ia menunjukkan cara menggores canting agar ketebalan yang didapat berbeda. Pak Sarwono menggunakan canting dengan nomor 02 untuk membatik Alquran. “Kalau mau halus cantingnya 01 atau 02. Kalau kasar pakai 03, 04 ada banyak nomor canting,” ujarnya.

Kain yang digunakan untuk batik Alquran merupakan kain prima. Pada Batik Mahkota Laweyan sendiri menggunakan tiga jenis kain. Kain prima, Mori Prissima digunakan sebagai bahan pembuatan baju, dan kain jenis Bajo untuk aksesoris seperti gorden.

Batik Alquran dimulai dengan pembuatan pola menggunakan pensil. Kemudian dilanjutkan dengan membubuhi malam menggunakan canting. “Malam ditaruh mengikuti pola,” ujar Pak Sarwono sambil sesekali mengambil canting dari kuali kecil yang ada di atas api. Malam harus tetap hangat, tidak boleh dingin karena dapat membeku. Jika terlalu panas malam akan merembes keluar pola.

Usai memberi malam, pembatikan memasuki proses pewarnaan. Bagian yang tidak diberi malam diwarnai menggunakan kuas. Kemudian kain di pres menggunakan alat water press. Guna mengeringkan pewarna agar tahan dan tidak luntur. Terakhir kain di Lorot atau direbus untuk menghilangkan malam.

Pak Sarwono mengatakan membatik memerlukan kesabaran dan ketenangan. “Tidak bisa buru-buru. Tidak bisa bising, kalau sedang pusing juga, wah kacau,” katanya. Bagi Pak Sarwono yang telah membatik sejak tahun 80-an membatik merupakan pekerjaan gampang-gampang susah.

About SUARA USU

Check Also

Euthanasia: Pembunuhan Atas Dasar Kasihan

  Oleh : Thariq Ridho Euthanasia sering dianalogikan dengan “good death” atau “easy death”. Sering …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *