Home / Resensi / Velvet Buzzsaw: Kontradiksi Nightcrawler

Velvet Buzzsaw: Kontradiksi Nightcrawler

Sumber Istimewa

 

Oleh: Surya Dua Artha Simanjuntak

Judul Velvet Buzzsaw
Sutradara Dan Gilroy
Penulis Skenario Dan Gilroy
Pemeran Jake Gyllenhaal, Rene Russo, Zawe Ashton, Tom Sturridge, Toni Collette, Natalia Dyer
Rilis 1 Februari 2019
Genre Horor, Misteri, Thriller
Durasi 113 menit

 

Setelah lima tahun, akhirnya Jake Gyllenhaal kembali berduet dengan Dan Gilroy: aktor dan sutradara yang bertanggung jawab atas film thriller fenomenal Nightcrawler (2014).

Duet Jake dengan Gilroy dalam Nightcrawler memang fantastis. Lewat film tersebut, Jake berhasil masuk nominasi aktor terbaik dalam pergelaran Golden Globes 2015. Bahkan, Gilroy berhasil masuk nominasi naskah asli terbaik di piala Oscar 2015.

Kini, Gilroy dan Jake kembali dengan film terbaru berjudul Velvet Buzzsaw. Berkat kesuksesan Nightcrawler, tak heran jika banyak penikmat film yang penasaran dengan duet terbaru mereka di film tersebut—termasuk saya, tentunya.

Velvet Buzzsaw bercerita tentang Morf Vandewalt (Jake Gyllenhaal), seorang kritikus seni terkemuka, dan Josephina (Zawe Ashton), seorang wanita pecinta seni yang bekerja di sebuah galeri seni.

Pada suatu pagi, Josephina mendapati tubuh seorang pria tua terkapar tanpa nyawa di lorong apartemen tempat ia tinggal. Belakangan, Josephina mengetahui pria tua tersebut bernama Vetril Dease, ia tinggal sebatang kara. Didorong rasa penasaran, Josephina kemudian mengecek kamar pria tua tersebut, yang tanpa disangka berisi banyak lukisan menakjubkan.

Tanpa pikir panjang, Josephina ‘mencuri’ beberapa lukisan dan menunjukkannya kepada Morf. Ternyata, Morf terpesona dengan lukisan-lukisan tersebut. Akhirnya, dibantu Rhodora Haze (Rene Russo), pemilik galeri tempat Joshepina bekerja, lukisan-lukisan karya Dease tersebut dipamerkan.

Pameran sukses besar, pengunjung terpikat dengan lukisan Dease. Morf kemudian berencana membuat buku mengenai Dease dan karyanya. Ia lalu mencari tahu latar belakang dan kisah hidup Dease. yang ternyata sangat kelam dan misterius. Sejalan dengan itu, berbagai kejadian aneh mulai bermunculan: orang-orang yang berhubungan dengan lukisan Dease satu-per-satu mati mengenaskan.

Morf yang menyadari hal tersebut coba memperingati Rhodora dan Josephina, bahwa mereka sedang dalam bahaya. Morf menyarankan agar mereka segera melenyapkan semua lukisan Dease agar terhindar dari maut yang mengintai.

Ya, secara premis, Velvet Buzzsaw menawarkan ide cerita yang sangat menarik: satire horor di dunia seni. Namun, eksekusinya tak dilakukan sebagaimana mestinya. Hal tersebut berbanding terbalik dengan Nightcrawler: premis sederhana dengan eksekusi yang luar biasa.

Dapat dikatakan, hampir semua aspek dalam film terasa mengambang: tak dieksekusi secara maksimal. Sepanjang jalan cerita, tak satupun adegan yang benar-benar membuat bulu kuduk naik. Pun, plot cerita terasa berantakan dan dinarasikan dengan lambat. Akhirnya, ketegangan yang coba dibangun seakan naik-turun.

Untungnya, penonton dibuat cukup penasaran dengan sosok Vetril Dease. Sehingga—paling tidak—mereka punya alasan untuk menonton adegan-adegan selanjutnya. Namun, sekali lagi, sepertinya Gilroy tak melihat poin besar ini. Daripada menceritakan lebih jelas latar belakang Dease yang penuh misteri, Gilroy lebih memilih mensubsidikan beberapa menit cerita untuk drama percintaan Morf dengan Josephina.

Sungguh disayangkan, cerita sebenarnya dapat lebih menarik dan memikat penonton. Namun, film seperti hanya menceritakan serial pembunuhan yang dilakukan karya seni—tanpa latar belakang yang jelas. Sehingga beberapa adegan kematian terasa sangat absurd.

Sumber Istimewa

Saya semakin bingung ketika menyadari bahwa film ini—seperti—tak punya seorang protagonis. Sampai akhir cerita, Velvet Buzzsaw tak pernah fokus kepada satu tokoh. Akhirnya, semua tokoh hanya—seperti—menjadi pemeran pembantu.

Entah mengapa, Gilroy seperti kehilangan daya magisnya. Dalam Nightcrawler, ia berhasil memainkan emosi penonton dan membawa mereka dalam petualangan penuh aksi dan ketegangan. Namun, dalam Velvet Buzzsaw, Gilroy seperti bingung ingin membawa penonton ke mana.

Dalam Nightcrawler, Gilroy dapat menciptakan karakter yang sangat hidup dalam diri Louis Bloom: psikopat ambisius yang sangat manipulatif. Namun dalam Velvet Buzzsaw, Gilroy bahkan tak mampu menonjolkan satu karakter pun.

Satu hal menarik dalam film ini ialah akting memukau dari Jake. Dalam Velvet Buzzsaw, ia memerankan karakter yang 180 derajat berbeda dari karakter ikonik yang pernah ia perankan sebelumnya. Ya, Jake seutuhnya berhasil menjadi seorang kritikus seni yang sangat selektif dan meyakinkan. Namun—seperti yang sudah dijelaskan di atas, jalan cerita yang tak mendukung seakan meredupkan karakter yang diperankan Jake.

Sangat disayangkan memang, kembalinya duet fenomenal Gilroy dan Jake dalam film ini tak berjalan sesuai ekspektasi. Namun, Velvet Buzzsaw bukanlah film yang tak layak ditonton.

Bagi pegiat seni, film ini mungkin akan tetap menarik untuk dinikmati. Banyak isu mengenai industri seni yang coba diangkat dalam Velvet Buzzsaw. Seperti Morf, sang kritikus seni, yang sangat didewakan.

Ya, nyatanya dalam industri seni, ulasan kritikus sangat berpengaruh pada penjualan karya seni. Namun, Morf seringkali memberikan ulasan yang bias. Entah itu karena terpengaruh rekannya atau bahkan untuk kepentingan pribadi.

Dalam film, juga di tampil dua seniman yang sangat kontradiktif: Damrish (Daveed Diggs) dan Piers (John Malkovich). Mereka berdua merupakan seniman berbakat namun dengan dua idealisme yang berbeda. Damrish, yang lebih mementingkan karya, memilih keluar dari industri seni profesional karena tak cocok dengan arusnya. Sedangkan Piers, yang lebih mementingkan uang, memilih bertahan dan hanya menciptakan karya untuk memuaskan pasar.

Ya, dalam Velvet Buzzsaw memang ditampilkan banyak satire yang ditujukan untuk pegiat seni. Seperti tagline yang tertulis dalam poster film, pada akhirnya: “Semua seni itu berbahaya.”

About SUARA USU

Check Also

Sekolah Biasa Saja: Kritik Praktik Pendidikan

  Oleh: Thariq Ridho Judul : Sekolah Biasa Saja Penulis : Toto Rahardjo Penerbit : Insist Press …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *